CERMIN: Malaikat Tak Bersayap di New York

Sabtu, 09 Maret 2024 - 09:07 WIB
Film peraih gelar Grand Jury Prize dariSundance Film Festival 2023 ini sejenis drama yang akan mencabik-cabik perasaan, menyatukannya kembali, dan menghangatkan hati kita setelah melewati 117 menit durasinya. Dibanding American Fiction, rasanya A Thousand and One lebih kuat secara cerita.

Film ini juga ebih relevan dengan banyak perempuan dan anak yang saling menguatkan di tengah kerasnya hidup di belahan dunia manapun. Juga menjadi gambaran realistis bahwa yang terjadi pada Inez, sebagaimana rentang waktu filmnya dari tahun 1994 hingga 2005, masih terjadi di New York hingga hari ini.



Foto: HBO Go

Debut penyutradaraan dari A.V Rockwell ini kuat dalam beragam segi. Selain dari sisi skenario dan tema, ia juga sangat kuat dari sisi pemeranan.

Teyana Taylor seharusnya bisa menjebol nomine Oscar tahun ini dengan sensitivitasnya menangkap apa yang dirasakan perempuan yang tak pernah punya rumah dalam usia 22 tahun. Yang lantas memutuskan membentuk rumahnya sendiri hingga anaknya menjelang dewasa dan siap bertarung dengan dunia yang sebenarnya.

Dibanding Sterling K Brown dari American Fiction yang berhasil menjebol nomine Oscar, Josiah Cross yang memerankan Terry remaja rasanya juga lebih perlu diapresiasi berkat caranya merespons peran menarik ini dengan indah.

Keberhasilan A Thousand and One adalah kerja kolektif dari banyak segi, juga dari departemen sinematografi yang cemerlang. Penata sinematografi Eric Yue berhasil menangkap yang selama ini luput terlihat dari sebuah kota yang berkembang.

Seiring dengan hubungan, kehidupan dan mimpi-mimpi yang terus tumbuh bersama Inez dan Terry, kita juga melihat New York yang terus berubah secara konstan. A.V Rockwell mempercantik dan membuat gambarnya berbicara lebih dalam dengan menambahkan cukup banyak cuplikan-cuplikan suara dari televisi, pidato, yang bisa menggambarkan bagaimana New York bekerja dari waktu ke waktu dan menjadi rumah bagi sekian juta orang di sana.



Foto: HBO Go

Kutipan Toni Morrison “New York is the last true city” juga terdengar di salah satu adegan. Sebuah pendekatan genius yang membuat film ini bekerja dalam level yang lebih baik dibanding film-film sejenis yang mencoba memotret kehidupan komunitas Afrika-Amerika di sana.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!