CERMIN: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Sabtu, 16 Maret 2024 - 09:27 WIB
Steve adalah sebuah kisah pilu dari sebuah negeri yang luluh lantak karena perang dan mengharuskan mereka keluar dari negerinya untuk memulai hidup baru. Biola menjadi instrumen pertama yang ditemui tak sengaja oleh Steve di sebuah pasar kaget yang memberinya harapan untuk hidup dan masa depan.
Foto: YouTube Los Angeles Times
Satu-satunya perempuan dari pahlawan tanpa tanda jasa itu bernama Paty Moreno. Orang tua tunggal dari dua orang anak yang mencoba membuktikan perihal American Dream.
Ia menerobos kesusahan hidupnya dari Meksiko untuk sebuah fase yang lebih baik. Dan ternyata fase itu diperolehnya ketika membaktikan dirinya untuk sebuah bengkel musik.
Saya membayangkan bagaimana jadinya negeri ini jika puluhan tahun lalu program serupa bisa dijalankan oleh pemerintah. Tak terbayang seberapa banyaknya musisi hingga komposer sekelas Erwin Gutawa dan Addie MS yang bisa lahir dari program serupa.
Tak terbayang seberapa besar dampaknya melahirkan generasi-generasi baru yang lebih kaya batinnya sebagai akibat persentuhan langsung dengan musik sejak dini.
Bisa jadi kita tak cuma punya Joey Alexander, remaja kelahiran Bali yang sudah dua kali beroleh nomine Grammy Awards. Bisa jadi pula kita sudah punya komposer yang bekerja untuk sutradara kelas dunia dan karyanya bertarung di ajang seprestisius Oscar.
Foto: YouTube Los Angeles Times
Tapi bahkan seluruh kota di Amerika pun tak melihat dampak musik pada perkembangan generasi masa depan. Tentu saja ini memprihatinkan. Bayangkan jika program ini dijalankan, para remaja akan menghabiskan sebagian besar waktu dan energinya untuk menempa dirinya selama berjam-jam hingga tak punya waktu lagi untuk tawuran atau melakukan seks bebas misalnya.
Mereka juga akan belajar disiplin dan berkomitmen tinggi untuk terus memperbaiki keterampilan musik mereka. Semua soft skills itu kelak sangat berguna hingga puluhan tahun kemudian.
Foto: YouTube Los Angeles Times
Satu-satunya perempuan dari pahlawan tanpa tanda jasa itu bernama Paty Moreno. Orang tua tunggal dari dua orang anak yang mencoba membuktikan perihal American Dream.
Ia menerobos kesusahan hidupnya dari Meksiko untuk sebuah fase yang lebih baik. Dan ternyata fase itu diperolehnya ketika membaktikan dirinya untuk sebuah bengkel musik.
Saya membayangkan bagaimana jadinya negeri ini jika puluhan tahun lalu program serupa bisa dijalankan oleh pemerintah. Tak terbayang seberapa banyaknya musisi hingga komposer sekelas Erwin Gutawa dan Addie MS yang bisa lahir dari program serupa.
Tak terbayang seberapa besar dampaknya melahirkan generasi-generasi baru yang lebih kaya batinnya sebagai akibat persentuhan langsung dengan musik sejak dini.
Bisa jadi kita tak cuma punya Joey Alexander, remaja kelahiran Bali yang sudah dua kali beroleh nomine Grammy Awards. Bisa jadi pula kita sudah punya komposer yang bekerja untuk sutradara kelas dunia dan karyanya bertarung di ajang seprestisius Oscar.
Foto: YouTube Los Angeles Times
Tapi bahkan seluruh kota di Amerika pun tak melihat dampak musik pada perkembangan generasi masa depan. Tentu saja ini memprihatinkan. Bayangkan jika program ini dijalankan, para remaja akan menghabiskan sebagian besar waktu dan energinya untuk menempa dirinya selama berjam-jam hingga tak punya waktu lagi untuk tawuran atau melakukan seks bebas misalnya.
Mereka juga akan belajar disiplin dan berkomitmen tinggi untuk terus memperbaiki keterampilan musik mereka. Semua soft skills itu kelak sangat berguna hingga puluhan tahun kemudian.
Lihat Juga :