Apakah The Shadow Strays Layak Ditonton? Film Superbrutal dari Timo Tjahjanto
Kamis, 17 Oktober 2024 - 22:00 WIB
Ia lalu berteman dengan Monji (Ali Fikry), anak lelaki dari perempuan itu, karena merasa memiliki nasib yang sama. Namun belakangan Monji diculik oleh orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian ibu Monji.
Dari sini, 13 berusaha membebaskan Monji, tanpa mengetahui bahwa ia terlibat dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Timo Tjahjanto mengawali kariernya sebagai sutradara film horor, tapi kini lebih populer sebagai pembuat film-film action tingkat tinggi dengan level kebrutalan di atas rata-rata. Beberapa film laganya yang populer ada The Night Come for Us (2018), serta Killers (2014) dan Headshot (2016) yang skenarionya ia buat.
The Shadow Strays adalah film yang tingkat kebrutalannya lebih tinggi dari tiga film tersebut. Segala bentuk kematian dengan cara kekerasan seolah berkumpul semua di sini, mulai dari kepala yang ditebas, mata yang dicolok, jari-jari yang dipotong, mulut yang dimasukkan benda tumpul hingga tembus ke tengkuk, hingga tulang kepala yang diremukkan.
Dengan durasi nyaris tiga jam, adegan-adegan perkelahian ini menguasai porsi hingga lebih dari 90%. Selain itu, adegannya pun juga berlangsung sangat panjang, bisa lebih dari 2-3 menit.
Foto: Netflix
Buat penikmat film yang sudah sering menonton film laga superbrutal, scene-scene panjang perkelahian yang terus berulang dalam titik tertentu mungkin akan terasa membosankan. Namun bagi mereka yang belum banyak menonton film jenis ini, bisa jadi akan sangat menikmatinya.
Selain itu, beberapa koreografi perkelahiannya juga tergolong baru dan segar dalam genre laga.
Dari sini, 13 berusaha membebaskan Monji, tanpa mengetahui bahwa ia terlibat dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Review The Shadow Strays
Timo Tjahjanto mengawali kariernya sebagai sutradara film horor, tapi kini lebih populer sebagai pembuat film-film action tingkat tinggi dengan level kebrutalan di atas rata-rata. Beberapa film laganya yang populer ada The Night Come for Us (2018), serta Killers (2014) dan Headshot (2016) yang skenarionya ia buat.
The Shadow Strays adalah film yang tingkat kebrutalannya lebih tinggi dari tiga film tersebut. Segala bentuk kematian dengan cara kekerasan seolah berkumpul semua di sini, mulai dari kepala yang ditebas, mata yang dicolok, jari-jari yang dipotong, mulut yang dimasukkan benda tumpul hingga tembus ke tengkuk, hingga tulang kepala yang diremukkan.
Dengan durasi nyaris tiga jam, adegan-adegan perkelahian ini menguasai porsi hingga lebih dari 90%. Selain itu, adegannya pun juga berlangsung sangat panjang, bisa lebih dari 2-3 menit.
Foto: Netflix
Buat penikmat film yang sudah sering menonton film laga superbrutal, scene-scene panjang perkelahian yang terus berulang dalam titik tertentu mungkin akan terasa membosankan. Namun bagi mereka yang belum banyak menonton film jenis ini, bisa jadi akan sangat menikmatinya.
Selain itu, beberapa koreografi perkelahiannya juga tergolong baru dan segar dalam genre laga.
Lihat Juga :