Green Growth Jadi Pilar SCG dalam Mendukung Visi Indonesia Emas 2045

Rabu, 20 November 2024 - 10:00 WIB
Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, menyampaikan, “Kebijakan sektor energi ke depan berfokus pada ketahanan energi dan transisi energi berkeadilan melalui efisiensi energi, percepatan energi baru terbarukan, dan pembangunan rendah karbon. Untuk mencapai Net Zero Emission (NZE), energi terbarukan perlu ditingkatkan tiga kali lipat dan efisiensi energi dua kali lipat, dengan geothermal sebagai andalan karena potensinya mencapai 23 GW. Kerangka kerja ESG harus terus ditingkatkan untuk menarik lebih banyak investasi, meminimalkan risiko, serta mendorong penghematan energi secara signifikan. Pemerintah juga akan mempercepat perizinan dan meningkatkan return on investment (IRR) sebesar 1,5% guna mendukung transformasi energi berkelanjutan."

Baca Juga: Pembaruan Rencana Pemakaman Raja Charles III Berdampak pada Pangeran William

Dalam kesempatan ini, SCG memperkenalkan inovasi produk Low Carbon Cement atau semen rendah karbon terbaru, yang akan dipasarkan di Indonesia debngan merek “Bezt Eco Friendly Cement”. Proses manufaktur produk ini menggunakan energi terbarukan dan bahan baku daur ulang seperti semen slag, abu terbang, dan limbah industri. Dalam formulasinya, SCG menggunakan CACO3 Calcium Carbonate yang meningkatkan kekuatan beton dan gypsum untuk memperlambat pengerasan semen. Proses produksi dan formulasi produk tersebut berhasil mengurangi emisi CO2 hingga 50kg per ton. Produk ini berhasil mendapatkan skor 95% pada sertifikasi Green Label dan skor SNI 127% untuk tingkat ketahanan, 7% lebih tinggi dari produk-produk dengan harga serupa.

Selain inovasi produk, Warit Jintanawan, Country Director SCG di Indonesia juga menjelaskan bahwa transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan juga menjadi strategi penerapan ESG dengan porsi yang signifikan dalam bisnis SCG di Indonesia. "Transisi energi adalah upaya strategis untuk dekarbonisasi. Dengan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, kita turut mengurangi risiko perubahan iklim dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Manfaat ini akan terasa secara jangka panjang, ketika ketersediaan sumber daya alam kita mencukupi untuk generasi berikutnya, serta kondusivitas lingkungan mampu menciptakan peluang ekonomi, seperti menarik investasi asing dan menciptakan lapangan kerja baru. Inilah indikator-indikator pertumbuhan ekonomi hijau yang perlu kita sasar.” ujar Warit.

Peramas Wajananat, Presiden Direktur SCG Indonesia & PT. Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, menjelaskan, “Skala implementasi operasional berkelanjutan di pabrik Semen Jawa terus meningkat dan semakin menyeluruh setiap tahunnya. Produksi semen kami kini sudah menggunakan teknologi Alternative Fuel and Raw (AF/AR) dengan mengolah limbah B3 dan non-B3. Kami juga mengoperasikan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) untuk mengolah sampah menjadi energi alternatif yang mengurangi 20% penggunaan bahan bakar fosil kami. Selain itu, SCG juga mengembangkan teknologi Carbon Capture untuk mengurangi emisi karbon, semua untuk mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi demi menciptakan bisnis yang hijau dan berkelanjutan,” jelas Peramas.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!