Putri Alice, Nenek Raja Charles III yang Idap Skizofrenia dan Jadi Subjek Eksperimen
Senin, 03 Maret 2025 - 06:00 WIB
Sejak muda, Alice menunjukkan kepedulian yang besar terhadap kemanusiaan. Selama Perang Balkan pada awal 1910-an, ia aktif membantu korban perang di rumah sakit lapangan. “Ya Tuhan, apa yang kami lihat. Lengan, kaki, dan kepala yang hancur, pemandangan yang mengerikan. Koridor penuh dengan darah,” tulis surat Alice kepada ibunya.
Dilansir dari South China Morning Post, Senin (3/3/2025), namun, kehidupan Keluarga Kerajaan Yunani berubah drastis akibat gejolak politik. Pada 1917, mereka diasingkan dan Alice harus beradaptasi dengan kehidupan di luar istana.
Pada 1930, Alice didiagnosis mengidap skizofrenia. Ia mengalami delusi bahwa dirinya memiliki hubungan spiritual dengan Yesus Kristus dan sering menggunakan bahasa yang tidak biasa untuk menggambarkan pengalamannya. Keluarganya memutuskan untuk mengirimnya ke sanatorium di Berlin, kemudian ke Swiss, di mana ia menjalani perawatan di bawah pengawasan Sigmund Freud.
Freud menerapkan metode terapi yang kontroversial pada Alice, termasuk prosedur radiasi pada ovarium untuk mempercepat menopause dini. Menurut dokumenter Real Royalty, Freud berasumsi bahwa gangguan mental Alice disebabkan oleh represi seksual. Namun, perawatan ini justru membuat kondisinya semakin memburuk.
Baca Juga: Raja Charles Minta David Beckham Cari Influencer untuk The King's Foundation
Foto/South China Morning Post
Alice mengklaim dirinya waras, tetapi ia tetap ditahan di fasilitas psikiatri selama lebih dari dua tahun sebelum akhirnya dibebaskan.
Pada 1937, Alice kembali bertemu dengan anak-anaknya ketika menghadiri pemakaman putrinya, Cecilie, yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Saat itu, Philip difoto bersama pria berseragam Nazi, yang menimbulkan kontroversi.
Menurut Town & Country, semua anak Alice menikah dengan bangsawan Jerman, dan tiga di antaranya memiliki hubungan dengan Partai Nazi. Hal ini kemudian menjadi sumber ketegangan bagi Philip, yang memilih untuk berkarier di Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan akhirnya berseberangan dengan sebagian anggota keluarganya.
Dilansir dari South China Morning Post, Senin (3/3/2025), namun, kehidupan Keluarga Kerajaan Yunani berubah drastis akibat gejolak politik. Pada 1917, mereka diasingkan dan Alice harus beradaptasi dengan kehidupan di luar istana.
Pada 1930, Alice didiagnosis mengidap skizofrenia. Ia mengalami delusi bahwa dirinya memiliki hubungan spiritual dengan Yesus Kristus dan sering menggunakan bahasa yang tidak biasa untuk menggambarkan pengalamannya. Keluarganya memutuskan untuk mengirimnya ke sanatorium di Berlin, kemudian ke Swiss, di mana ia menjalani perawatan di bawah pengawasan Sigmund Freud.
Freud menerapkan metode terapi yang kontroversial pada Alice, termasuk prosedur radiasi pada ovarium untuk mempercepat menopause dini. Menurut dokumenter Real Royalty, Freud berasumsi bahwa gangguan mental Alice disebabkan oleh represi seksual. Namun, perawatan ini justru membuat kondisinya semakin memburuk.
Baca Juga: Raja Charles Minta David Beckham Cari Influencer untuk The King's Foundation
Foto/South China Morning Post
Alice mengklaim dirinya waras, tetapi ia tetap ditahan di fasilitas psikiatri selama lebih dari dua tahun sebelum akhirnya dibebaskan.
Pada 1937, Alice kembali bertemu dengan anak-anaknya ketika menghadiri pemakaman putrinya, Cecilie, yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Saat itu, Philip difoto bersama pria berseragam Nazi, yang menimbulkan kontroversi.
Menurut Town & Country, semua anak Alice menikah dengan bangsawan Jerman, dan tiga di antaranya memiliki hubungan dengan Partai Nazi. Hal ini kemudian menjadi sumber ketegangan bagi Philip, yang memilih untuk berkarier di Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan akhirnya berseberangan dengan sebagian anggota keluarganya.
Lihat Juga :