Kasus Hipertensi dan Kolesterol Naik, Singapura Wajibkan Label Gizi pada Makanan Olahan
Selasa, 08 April 2025 - 15:00 WIB
Label Nutri-Grade akan tetap menggunakan sistem peringkat A hingga D, dengan produk kategori D dilarang untuk diiklankan. Penilaian didasarkan pada kandungan tertinggi dari tiga zat gizi utama yakni gula, natrium, dan lemak jenuh. Misalnya, jika sebuah produk memiliki natrium kelas C dan lemak jenuh kelas D, maka keseluruhan nilai Nutri-Grade-nya adalah D, dan label akan menyoroti lemak jenuh sebagai perhatian utama.
Setiap subkategori produk akan memiliki ambang batas gizi tersendiri, sesuai dengan karakteristik dan cara penggunaannya. Ong mencontohkan bahwa kecap asin, kecap manis, dan saus ikan tidak bisa dinilai dengan standar yang sama, karena berbeda dalam komposisi dan cara konsumsi. Tanpa pembeda ini, produk seperti saus ikan yang digunakan dalam jumlah sedikit namun tinggi natrium akan selalu mendapat nilai buruk tanpa ruang untuk perbaikan.
"Tidak mungkin untuk menilai kecap manis, kecap asin, dan kecap ikan berdasarkan serangkaian ambang batas yang sama, mengingat adanya perbedaan inheren dalam kandungan natrium dan gula di dalamnya, dan yang lebih penting, perbedaan inheren dalam cara kita menggunakan saus-saus tersebut," ujarnya.
Baca Juga: 5 Tanda Kolesterol Tinggi di Kepala, Tak Melulu Leher Kaku
"Jika kita membiarkan setiap saus menggunakan ambang batas yang sama, bahan seperti saus ikan yang secara inheren memiliki kandungan natrium tinggi dan digunakan dengan hemat, akan dikutuk untuk diberi nilai D dengan sedikit harapan untuk perbaikan. Produsennya juga tidak akan memiliki insentif untuk melakukan perbaikan," tandasnya.
Dengan adanya ambang batas spesifik, konsumen akan lebih mudah membandingkan produk dalam kategori yang sama dan memilih opsi yang lebih sehat. Sementara industri didorong untuk melakukan reformulasi secara realistis dan bertahap.
Setiap subkategori produk akan memiliki ambang batas gizi tersendiri, sesuai dengan karakteristik dan cara penggunaannya. Ong mencontohkan bahwa kecap asin, kecap manis, dan saus ikan tidak bisa dinilai dengan standar yang sama, karena berbeda dalam komposisi dan cara konsumsi. Tanpa pembeda ini, produk seperti saus ikan yang digunakan dalam jumlah sedikit namun tinggi natrium akan selalu mendapat nilai buruk tanpa ruang untuk perbaikan.
"Tidak mungkin untuk menilai kecap manis, kecap asin, dan kecap ikan berdasarkan serangkaian ambang batas yang sama, mengingat adanya perbedaan inheren dalam kandungan natrium dan gula di dalamnya, dan yang lebih penting, perbedaan inheren dalam cara kita menggunakan saus-saus tersebut," ujarnya.
Baca Juga: 5 Tanda Kolesterol Tinggi di Kepala, Tak Melulu Leher Kaku
"Jika kita membiarkan setiap saus menggunakan ambang batas yang sama, bahan seperti saus ikan yang secara inheren memiliki kandungan natrium tinggi dan digunakan dengan hemat, akan dikutuk untuk diberi nilai D dengan sedikit harapan untuk perbaikan. Produsennya juga tidak akan memiliki insentif untuk melakukan perbaikan," tandasnya.
Dengan adanya ambang batas spesifik, konsumen akan lebih mudah membandingkan produk dalam kategori yang sama dan memilih opsi yang lebih sehat. Sementara industri didorong untuk melakukan reformulasi secara realistis dan bertahap.
(dra)
Lihat Juga :