Dokter Pastikan Juliana Marins Meninggal Bukan karena Kelaparan
Sabtu, 28 Juni 2025 - 05:00 WIB
"Jadi kalau kita lihat yang paling terparah, itu adalah yang berhubungan dengan pernapasan. Yaitu luka-luka terutama di daerah dada. Terutama adalah dada bagian belakang, punggung ya. Itu yang merusak organ-organ di dalamnya," ungkapnya.
"Kalau kita lihat pola lukanya, karena luka lecet geser, itu sesuai dengan terjatuh. Tersebar di seluruh tubuh, terutama di daerah punggung, kemudian juga di anggota gerak atas, dan bawah. Di bagian kepala ada," lanjutnya.
Sementara itu, RSUD Bali Mandara masih menangani jenazah Juliana untuk keperluan penyelidikan lanjutan. Proses preservasi dilakukan guna memastikan kondisi tubuh korban tetap terjaga selama pemeriksaan forensik berlangsung.
"Masih (di rumah sakit). Masih kita preservasi. Jadi untuk mempertahankan bahwa jenazah itu tetap dalam keadaan awet," tandasnya.
Juliana Marins memulai pendakian ke Gunung Rinjani pada Jumat, 20 Juni 2025, melalui jalur Sembalun bersama lima pendaki lain dari berbagai negara dan seorang pemandu lokal bernama Ali Musthofa. Perjalanan dimulai dari kantor Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menuju Pos Pelawangan Sembalun. Keesokan harinya, Sabtu, 21 Juni 2025, kelompok tersebut melanjutkan pendakian menuju puncak.
Namun, di kawasan Cemara Nunggal pada ketinggian 2.900–3.000 mdpl, Juliana merasa kelelahan dan memutuskan beristirahat. Ali mengaku tetap berada tidak jauh di depan, tetapi setelah 15–30 menit Juliana tak kunjung menyusul. Ia kembali ke lokasi dan mendapati cahaya senter di jurang, disertai suara permintaan tolong. Diduga kuat, Juliana terpeleset dan jatuh ke jurang sedalam 150–200 meter arah Danau Segara Anak.
Laporan kejadian diteruskan ke petugas TNGR sekitar pukul 06.30 WITA, dan koordinasi dilakukan dengan Kantor SAR Mataram. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Balai Besar TNGR, TNI, Polri, BPBD, dan relawan lainnya mulai bergerak menuju lokasi. Cuaca buruk dan medan ekstrem memperlambat proses pencarian. Pada Senin, 23 Juni 2025, drone thermal berhasil mendeteksi keberadaan Juliana sekitar 500 meter dari titik jatuh awal. Ia terlihat masih hidup.
Sayangnya, kondisi medan yang curam dan tertutup kabut menghalangi proses evakuasi. Baru pada Selasa, 24 Juni 2025, seorang anggota tim SAR berhasil menjangkau lokasi dan memastikan Juliana telah meninggal dunia. Tim SAR pun harus bermalam bersama jenazah karena proses evakuasi tidak memungkinkan dilakukan saat itu juga.
Proses evakuasi jenazah dilakukan keesokan harinya, Rabu, 25 Juni 2025, menggunakan metode vertical rescue yang rumit dan memakan waktu hampir enam jam. Juliana berhasil diangkat dari dasar jurang pada pukul 13.51 WITA dan dibawa ke Posko Gabungan TNGR Sembalun. Jenazah kemudian dipindahkan ke RSUD Bali Mandara untuk diautopsi.
"Kalau kita lihat pola lukanya, karena luka lecet geser, itu sesuai dengan terjatuh. Tersebar di seluruh tubuh, terutama di daerah punggung, kemudian juga di anggota gerak atas, dan bawah. Di bagian kepala ada," lanjutnya.
Sementara itu, RSUD Bali Mandara masih menangani jenazah Juliana untuk keperluan penyelidikan lanjutan. Proses preservasi dilakukan guna memastikan kondisi tubuh korban tetap terjaga selama pemeriksaan forensik berlangsung.
"Masih (di rumah sakit). Masih kita preservasi. Jadi untuk mempertahankan bahwa jenazah itu tetap dalam keadaan awet," tandasnya.
Juliana Marins memulai pendakian ke Gunung Rinjani pada Jumat, 20 Juni 2025, melalui jalur Sembalun bersama lima pendaki lain dari berbagai negara dan seorang pemandu lokal bernama Ali Musthofa. Perjalanan dimulai dari kantor Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menuju Pos Pelawangan Sembalun. Keesokan harinya, Sabtu, 21 Juni 2025, kelompok tersebut melanjutkan pendakian menuju puncak.
Namun, di kawasan Cemara Nunggal pada ketinggian 2.900–3.000 mdpl, Juliana merasa kelelahan dan memutuskan beristirahat. Ali mengaku tetap berada tidak jauh di depan, tetapi setelah 15–30 menit Juliana tak kunjung menyusul. Ia kembali ke lokasi dan mendapati cahaya senter di jurang, disertai suara permintaan tolong. Diduga kuat, Juliana terpeleset dan jatuh ke jurang sedalam 150–200 meter arah Danau Segara Anak.
Laporan kejadian diteruskan ke petugas TNGR sekitar pukul 06.30 WITA, dan koordinasi dilakukan dengan Kantor SAR Mataram. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Balai Besar TNGR, TNI, Polri, BPBD, dan relawan lainnya mulai bergerak menuju lokasi. Cuaca buruk dan medan ekstrem memperlambat proses pencarian. Pada Senin, 23 Juni 2025, drone thermal berhasil mendeteksi keberadaan Juliana sekitar 500 meter dari titik jatuh awal. Ia terlihat masih hidup.
Sayangnya, kondisi medan yang curam dan tertutup kabut menghalangi proses evakuasi. Baru pada Selasa, 24 Juni 2025, seorang anggota tim SAR berhasil menjangkau lokasi dan memastikan Juliana telah meninggal dunia. Tim SAR pun harus bermalam bersama jenazah karena proses evakuasi tidak memungkinkan dilakukan saat itu juga.
Proses evakuasi jenazah dilakukan keesokan harinya, Rabu, 25 Juni 2025, menggunakan metode vertical rescue yang rumit dan memakan waktu hampir enam jam. Juliana berhasil diangkat dari dasar jurang pada pukul 13.51 WITA dan dibawa ke Posko Gabungan TNGR Sembalun. Jenazah kemudian dipindahkan ke RSUD Bali Mandara untuk diautopsi.
(dra)
Lihat Juga :