Pesona Gunung Lumut di Timur Belitung, Surga Hijau yang Tenang dan Tersembunyi
Senin, 21 Juli 2025 - 21:20 WIB
“Waktu terbaik untuk tracking di sini memang pada saat musim hujan. Tampilan lumutnya lebih segar dan lebih hijau. Kalau datangnya habis hujan, kabut-kabut juga masuk dalam sela pepohonan. Itu sebabnya banyak yang bilang Gunung Lumut ini seperti negeri dongeng,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lindong Lumut Kristianto Putra, belum lama ini.
Lebih lanjut Kristianto menjelaskan, di sepanjang jalur tracking, wisatawan juga akan menemukan flora dan fauna unik yang menjadi kekayaan ekologi kawasan ini. Lumut daun, lumut hati, hingga lumut tanduk menyelimuti bebatuan, berpadu dengan anggrek bulan, kantong semar, pohon simpor, serta jamur pelawan yang dapat dikonsumsi.
Dari sisi fauna, telah diidentifikasi keberadaan tarsius, tokek endemik yang dikenal sebagai Tokek Ahok, burung Rui yang dilindungi, kelelawar yang warga lokal sebut dengan istilah vampir palsu, kupu-kupu, hingga kancil dan kijang liar.
Baca Juga: 5 Gunung Terdingin di Indonesia, Ada yang Diselimuti Salju
Foto/Dimas Andhika Fikri
Di puncak bukit terdapat gardu pandang sederhana, tempat di mana wisatawan bisa memandangi lanskap desa dan hutan sekitarnya. Bagi pencinta fotografi, tempat ini adalah spot terbaik menangkap kabut yang menyapu rimbunnya pepohonan.
Gunung Lumut juga menjadi bagian dari kawasan Geopark Belitong yang diakui UNESCO sejak 2021, dan pengelolaannya sepenuhnya dilakukan oleh warga melalui Pokdarwis. Untuk biaya tiket masuknya sendiri, wisatawan bisa langsung datang atau “go-show”, serta memesan melalui media sosial resmi Gunung Lumut.
Paket wisata yang tersedia cukup terjangkau, mulai dari Rp125 ribu per orang (minimal empat orang), termasuk trekking, welcome drink, sesi perkenalan budaya, serta permainan tradisional seperti Lesong Ketintong dan Alu Beserang.
Lebih lanjut Kristianto menjelaskan, di sepanjang jalur tracking, wisatawan juga akan menemukan flora dan fauna unik yang menjadi kekayaan ekologi kawasan ini. Lumut daun, lumut hati, hingga lumut tanduk menyelimuti bebatuan, berpadu dengan anggrek bulan, kantong semar, pohon simpor, serta jamur pelawan yang dapat dikonsumsi.
Dari sisi fauna, telah diidentifikasi keberadaan tarsius, tokek endemik yang dikenal sebagai Tokek Ahok, burung Rui yang dilindungi, kelelawar yang warga lokal sebut dengan istilah vampir palsu, kupu-kupu, hingga kancil dan kijang liar.
Baca Juga: 5 Gunung Terdingin di Indonesia, Ada yang Diselimuti Salju
Foto/Dimas Andhika Fikri
Di puncak bukit terdapat gardu pandang sederhana, tempat di mana wisatawan bisa memandangi lanskap desa dan hutan sekitarnya. Bagi pencinta fotografi, tempat ini adalah spot terbaik menangkap kabut yang menyapu rimbunnya pepohonan.
Gunung Lumut juga menjadi bagian dari kawasan Geopark Belitong yang diakui UNESCO sejak 2021, dan pengelolaannya sepenuhnya dilakukan oleh warga melalui Pokdarwis. Untuk biaya tiket masuknya sendiri, wisatawan bisa langsung datang atau “go-show”, serta memesan melalui media sosial resmi Gunung Lumut.
Paket wisata yang tersedia cukup terjangkau, mulai dari Rp125 ribu per orang (minimal empat orang), termasuk trekking, welcome drink, sesi perkenalan budaya, serta permainan tradisional seperti Lesong Ketintong dan Alu Beserang.
Lihat Juga :