Lindungi Penderita Demensia dari Covid-19

Jum'at, 11 September 2020 - 12:15 WIB
Menurutnya, terjadi peningkatan jumlah orang yang bertanya seputar kesehatan mental dan kesehatan otak. Namun, kondisi pandemi COVID-19 membuat banyak diantaranya merasa kesulitan dan takut untuk datang ke rumah sakit dan berkonsultasi secara langsung.

“Di sisi lain, sistem pelayanan kesehatan yang membatasi pendamping dan adanya ruang isolasi tanpa pendamping, dengan jumlah tenaga kesehatan rumah sakit belum sepenuhnya memadai menjadi permasalahan besar pasien lansia dengan demensia di rumah sakit,” jelas dr. Yuda. Pada 2016, di Indonesia diperkirakan telah ada sekitar 1,2 juta ODD, angka ini berpotensi meningkat menjadi 2 juta orang di 2030 dan 4 juta orang pada 2050.

Perlakuan yang salah terhadap ODD dapat memperparah kondisi kejiwaan. Berdasarkan laporan Alzheimer’s Disease International (ADI), tiap 2 dari 3 orang masih berpikir bahwa demensia atau pikun adalah bagian normal dari penuaan. Sejatinya demensia merupakan gejala penyakit yang menyebabkan penurunan fungsi otak. (Baca juga: Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri China Ternyata Bukan Hadis Shahih)

Sedangkan demensia Alzheimer adalah gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi emosi, daya ingat, dan pengambilan keputusan seseorang dan biasa disebut pikun. Risiko demensia bisa dicegah dengan memahami bahwa kebiasaan hidup sekarang dapat mempengaruhi kesehatan otak di masa depan.

“Kita dapat mengurangi risiko demensia Alzheimer sejak usia muda dengan menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga asupan gizi seimbang, berkegiatan positif termasuk dengan memberi perhatian pada orang tua dan keluarga. Jangan maklum dengan pikun,” beber Direktur Eksekutif Alzheimer’s Indonesia Michael Dirk Roelof Maltimoe.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!