Ini Alasan Wanda Hamidah Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia yang Berlayar ke Gaza
Kamis, 18 September 2025 - 07:00 WIB
Dengan kondisi demikian, para aktivis harus bergerak cepat untuk mencari pengganti baik armada hingga kapten kapal dalam waktu yang sangat terbatas. Di mana hal tersebut menjadi sebuah tantangan besar di tengah misi kemanusiaan.
"Dan waktu singkat kami harus mencari 20 kapten kapal dan 20 kru lain, tanpa jaminan pulang," ungkapnya.
"Insya Allah, ini adalah keputusan yang terbaik," tambahnya.
Baca Juga: Wanda Hamidah Kesulitan Cari Kapal untuk ke Gaza, Kini Tertahan di Tunisia
Pada akhirnya, perempuan kelahiran 21 September 1977 itu berhasil mendapatkan satu kursi terakhir di kapal Kaiser setelah terus berusaha mencari jalan agar tetap bisa ikut berlayar.
"Mbak @wandahamidahbsa terus berusa mencari seatnya sendiri, saat kami memutuskan melanjutkan perjuangan di tempat lain. And she got it. Satu kursi, benar-benar di kapal terakhir," tandasnya.
Koordinator Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) Muhammad Husein, menegaskan bahwa keberangkatan Wanda merupakan bagian dari gerakan besar yang melibatkan 47 negara. Misi ini bukan hanya perjuangan satu negara atau kelompok, melainkan aksi kolektif internasional untuk menunjukkan kepedulian dunia terhadap Gaza.
"Dan waktu singkat kami harus mencari 20 kapten kapal dan 20 kru lain, tanpa jaminan pulang," ungkapnya.
"Insya Allah, ini adalah keputusan yang terbaik," tambahnya.
Baca Juga: Wanda Hamidah Kesulitan Cari Kapal untuk ke Gaza, Kini Tertahan di Tunisia
Pada akhirnya, perempuan kelahiran 21 September 1977 itu berhasil mendapatkan satu kursi terakhir di kapal Kaiser setelah terus berusaha mencari jalan agar tetap bisa ikut berlayar.
"Mbak @wandahamidahbsa terus berusa mencari seatnya sendiri, saat kami memutuskan melanjutkan perjuangan di tempat lain. And she got it. Satu kursi, benar-benar di kapal terakhir," tandasnya.
Bagian dari Misi Internasional
Koordinator Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) Muhammad Husein, menegaskan bahwa keberangkatan Wanda merupakan bagian dari gerakan besar yang melibatkan 47 negara. Misi ini bukan hanya perjuangan satu negara atau kelompok, melainkan aksi kolektif internasional untuk menunjukkan kepedulian dunia terhadap Gaza.
(dra)
Lihat Juga :