Perempuan Indonesia Diajak Deteksi Dini Kanker Payudara Lewat Program Skrining Nasional

Jum'at, 07 November 2025 - 21:31 WIB
Dalam paparannya, General Practitioner - Breast Cancer Care Alliance MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Rosary menegaskan “Kanker payudara masih menjadi kasus kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia. Kemudian 70% angka kematian pada penderita kanker payudara disebabkan karena sudah stadium lanjut.

Padahal, ketika ditemukan pada stadium awal, peluang kesembuhannya bisa mencapai hampir 100 persen. Karena itu, deteksi dini adalah langkah nyata paling penting untuk menyelamatkan lebih banyak perempuan.

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis oleh tenaga medis (SADANIS) sebaiknya dilakukan secara rutin. Selain deteksi dini, menjaga gaya hidup sehat seperti menjaga berat badan ideal, berolahraga teratur, dan menghindari alkohol dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara. Edukasi seperti ini perlu terus digerakkan agar kesadaran masyarakat semakin kuat,” ujar dr. Rosary.

Menurut data GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus kanker baru, di mana 16,2% atau 66.271 kasus merupakan kanker payudara. Dari total 242.988 kematian akibat kanker, sekitar 9,3% atau 22.598 kematian disebabkan oleh kanker payudara (GLOBOCAN, Global Cancer Observatory, 2022).

Secara global, setiap tahun ada 2,3 juta kasus baru, atau sekitar 11,6% dari semua kasus kanker pada wanita. Angka kematian mencapai 666.000 kematian, kira-kira 6,9% dari semua kematian kanker pada wanita.

Ironisnya, di Indonesia sekitar 70% kasus baru terdeteksi pada stadium 3, padahal tingkat kesembuhan bisa mencapai hampir 100% pada stadium awal. Data ini menegaskan urgensi deteksi dini serta pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk edukasi kesehatan berkelanjutan di masyarakat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!