Pendidikan Seharusnya Tidak Individualistis dan Materialistis
Senin, 04 Mei 2020 - 21:40 WIB
Oleh karena itu, pendidikan menjadi kurang implementatif. Kontekstualisasinya terhadap kehidupan yang sedang berjalan dan lingkungan sekitar juga dipertanyakan. Sekolah yang merupakan tempat untuk belajar dipenuhi dengan teori dan minim implementasi.
Menurut Dilla, seharusnya pendidikan dapat dilaksanakan secara kontekstual, tidak menyerabut peserta didik dari kehidupannya sekarang, dari lingkungan tempatnya tinggal. Di sekolah saat ini, peserta didik jauh lebih sering diminta untuk membaca buku agar dapat menyelesaikan soal secara benar ketimbang mempraktikkan apa yang mereka pelajari secara langsung di kehidupan.
Dilla juga menyoroti pemberlakuan kurikulum 2013 yang dijadikan standar pendidikan di Indonesia saat ini. Kurikulum 2013 dibuat dengan berkiblat ke PISA (Programme for International Student Assessment) yang merupakan studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Studi ini dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development).
Menurut Dilla, pemosisian PISA sebagai kiblat pembentukan kurikulum di Indonesia kurang tepat, karena PISA hanya menguji kemampuan matematika, sains, dan literasi saja. Padahal, banyak faktor lain yang tidak diukur dan seharusnya berpengaruh penting terhadap keberjalanan pendidikan di suatu negara.
Selain itu, PISA juga mendapat beberapa kritik dari tokoh-tokoh pendidikan. Salah satunya Yong Zhao, seorang profesor di School of Education, University of Kansas. Ia mengatakan bahwa PISA berhasil menciptakan ilusi kualitas pendidikan dan memasarkannya ke dunia.
PISA 2018. Foto: factsmap.com
Dilla menyayangkan langkah pemerintah yang sangat menyoroti rangking PISA Indonesia yang rendah. Hal ini karena menurutnya pendidikan di tiap negara memang tidak untuk dibandingkan karena kondisi dari tiap negara berbeda. Dilla mengatakan bahwa kondisi pendidikan di suatu negara dipengaruhi oleh faktor demografi, geografi, dan sejarah negara tersebut.
Setiap sistem pendidikan yang berlaku di suatu negara pasti memiliki nilai positif dan negatifnya masing-masing, yang sudah pasti berbeda untuk setiap negara. Jadi membandingkan bahkan hingga mengadopsi sistem pendidikan negara lain yang berada di ranking tinggi PISA pun belum tentu baik kalau tidak mengkontekstualisasikannya dengan kondisi dan situasi di negara masing-masing.
Menurut Dilla, seharusnya setiap negara dapat berefleksi atas kekuatan dan kekurangannya masing-masing untuk berbenah dan mengusahakan perbaikan pada sistem yang dimilikinya agar dapat mewujudkan cita-cita pendidikannya.
Pendidikan Kontekstual di Indonesia
Di Indonesia, Sokola Institute adalah salah satu lembaga yang sudah menerapkan pendidikan kontekstual. Sokola Institute membuat sistem yang berbeda dengan sistem yang diberlakukan oleh pemerintah.
Menurut Dilla, seharusnya pendidikan dapat dilaksanakan secara kontekstual, tidak menyerabut peserta didik dari kehidupannya sekarang, dari lingkungan tempatnya tinggal. Di sekolah saat ini, peserta didik jauh lebih sering diminta untuk membaca buku agar dapat menyelesaikan soal secara benar ketimbang mempraktikkan apa yang mereka pelajari secara langsung di kehidupan.
Dilla juga menyoroti pemberlakuan kurikulum 2013 yang dijadikan standar pendidikan di Indonesia saat ini. Kurikulum 2013 dibuat dengan berkiblat ke PISA (Programme for International Student Assessment) yang merupakan studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Studi ini dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development).
Menurut Dilla, pemosisian PISA sebagai kiblat pembentukan kurikulum di Indonesia kurang tepat, karena PISA hanya menguji kemampuan matematika, sains, dan literasi saja. Padahal, banyak faktor lain yang tidak diukur dan seharusnya berpengaruh penting terhadap keberjalanan pendidikan di suatu negara.
Selain itu, PISA juga mendapat beberapa kritik dari tokoh-tokoh pendidikan. Salah satunya Yong Zhao, seorang profesor di School of Education, University of Kansas. Ia mengatakan bahwa PISA berhasil menciptakan ilusi kualitas pendidikan dan memasarkannya ke dunia.
PISA 2018. Foto: factsmap.com
Dilla menyayangkan langkah pemerintah yang sangat menyoroti rangking PISA Indonesia yang rendah. Hal ini karena menurutnya pendidikan di tiap negara memang tidak untuk dibandingkan karena kondisi dari tiap negara berbeda. Dilla mengatakan bahwa kondisi pendidikan di suatu negara dipengaruhi oleh faktor demografi, geografi, dan sejarah negara tersebut.
Setiap sistem pendidikan yang berlaku di suatu negara pasti memiliki nilai positif dan negatifnya masing-masing, yang sudah pasti berbeda untuk setiap negara. Jadi membandingkan bahkan hingga mengadopsi sistem pendidikan negara lain yang berada di ranking tinggi PISA pun belum tentu baik kalau tidak mengkontekstualisasikannya dengan kondisi dan situasi di negara masing-masing.
Menurut Dilla, seharusnya setiap negara dapat berefleksi atas kekuatan dan kekurangannya masing-masing untuk berbenah dan mengusahakan perbaikan pada sistem yang dimilikinya agar dapat mewujudkan cita-cita pendidikannya.
Pendidikan Kontekstual di Indonesia
Di Indonesia, Sokola Institute adalah salah satu lembaga yang sudah menerapkan pendidikan kontekstual. Sokola Institute membuat sistem yang berbeda dengan sistem yang diberlakukan oleh pemerintah.
Lihat Juga :