Mengenal Emotional Eating dan Cara Mengendalikannya Selama Berpuasa
Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:49 WIB
Saat merasa cemas, bosan, atau sedih, makanan sering digunakan untuk mengalihkan perhatian dari perasaan tidak nyaman itu. Selama puasa, perubahan pola tidur atau energi tubuh yang turun bisa membuat beberapa orang lebih rentan pada dorongan ini.
Makanan tertentu dapat memicu rasa nyaman atau nostalgia, sehingga dipilih untuk “menghibur diri”. Selama Ramadan, ini bisa muncul ketika berbuka di mana tidak sekedar untuk mengisi lapar, tetapi sebagai reaksi emosional terhadap energi yang rendah atau mood yang berubah.
Stress, rasa bersalah, atau frustrasi bisa memicu keinginan makan yang tidak terkait lapar fisik. Puasa yang panjang atau ritme yang berubah terkadang memicu stres atau lelah, yang kemudian muncul sebagai dorongan makan emosional ketika waktu berbuka tiba.
Untuk itu penting mengelola emotional eating, termasuk saat puasa dengan cara berikut:
2. Kenikmatan atau “Comfort Food”
Makanan tertentu dapat memicu rasa nyaman atau nostalgia, sehingga dipilih untuk “menghibur diri”. Selama Ramadan, ini bisa muncul ketika berbuka di mana tidak sekedar untuk mengisi lapar, tetapi sebagai reaksi emosional terhadap energi yang rendah atau mood yang berubah.
3. Perasaan Negatif atau Stres
Stress, rasa bersalah, atau frustrasi bisa memicu keinginan makan yang tidak terkait lapar fisik. Puasa yang panjang atau ritme yang berubah terkadang memicu stres atau lelah, yang kemudian muncul sebagai dorongan makan emosional ketika waktu berbuka tiba.
Untuk itu penting mengelola emotional eating, termasuk saat puasa dengan cara berikut:
4. Perhatikan Rasa Lapar Fisik
Lihat Juga :