Kemen Ekraf Godok Sinewara, Bioskop Negara Pertama Siap Dibangun di Otista
Rabu, 25 Februari 2026 - 04:45 WIB
“Dari data yang kami punya sekarang di negara kita tersedia hanya sekitar 2.400 layar. Idealnya jika dibandingkan dari India, China maupun USA, harusnya Indonesia itu mempunyai 20.000 layar. Yang menjadi target setengahnya let's say 10.000 layar,” ucap dia.
Bahkan, jumlah 2.400 layar yang ada di Indonesia tidak merata di seluruh wilayah. Ia menyebut bahwa hanya 25 sampai 30 persen kabupaten kota yang mempunyai layar. “Dibalik tingkat penyebarannya sangat tidak rata, bahkan hanya 25 sampai 30 persen daripada kabupaten kota yang ada di Indonesia yang mempunyai layar. Jadi memang penyebarannya sangat tidak rata,” tutur Ifan.
Maka dari itu, Sinewara sendiri menjadi pilot project bioskop negara pertama. Ia berharap, adanya Sinewara bisa menjadi pendorong hadirnya bioskop atau layar di setiap daerah.
“Jadi ini sebagai pilot project untuk bioskop negara pertama. Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini dengan cara bergabung menjadi salah satu shareholder,” beber dia.
Lebih lanjut, ia juga meminta agar dilakukan kajian mendalam terkait ketahanan film Indonesia, di mana saat ini penayangan film lokal di bioskop hanya dilakukan setiap hari Kamis dengan daya tahan penayangannya mengikuti okupansi penonton.
“Saat ini memang film Indonesia, film lokal itu tayang di layar bioskop setiap hari Kamis saja. Dimana daya tahan penayangan filmnya itu sangat bergantung pada okupansi penonton. Balik lagi ini sudah menjadi polemik yang sangat luar biasa. Tapi kami ingin mengusulkan kajian yang lebih mendalam bagaimana jika diadakan hari penambahan untuk tayangnya film lokal dan juga sistem daripada ketahanan film tersebut yang ada di layar,” pungkas dia.
Bahkan, jumlah 2.400 layar yang ada di Indonesia tidak merata di seluruh wilayah. Ia menyebut bahwa hanya 25 sampai 30 persen kabupaten kota yang mempunyai layar. “Dibalik tingkat penyebarannya sangat tidak rata, bahkan hanya 25 sampai 30 persen daripada kabupaten kota yang ada di Indonesia yang mempunyai layar. Jadi memang penyebarannya sangat tidak rata,” tutur Ifan.
Maka dari itu, Sinewara sendiri menjadi pilot project bioskop negara pertama. Ia berharap, adanya Sinewara bisa menjadi pendorong hadirnya bioskop atau layar di setiap daerah.
“Jadi ini sebagai pilot project untuk bioskop negara pertama. Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini dengan cara bergabung menjadi salah satu shareholder,” beber dia.
Lebih lanjut, ia juga meminta agar dilakukan kajian mendalam terkait ketahanan film Indonesia, di mana saat ini penayangan film lokal di bioskop hanya dilakukan setiap hari Kamis dengan daya tahan penayangannya mengikuti okupansi penonton.
“Saat ini memang film Indonesia, film lokal itu tayang di layar bioskop setiap hari Kamis saja. Dimana daya tahan penayangan filmnya itu sangat bergantung pada okupansi penonton. Balik lagi ini sudah menjadi polemik yang sangat luar biasa. Tapi kami ingin mengusulkan kajian yang lebih mendalam bagaimana jika diadakan hari penambahan untuk tayangnya film lokal dan juga sistem daripada ketahanan film tersebut yang ada di layar,” pungkas dia.
(wur)
Lihat Juga :