Hantavirus: Potensi Pandemi Kecil, Tapi Kewaspadaan Harus Tetap Tinggi
Kamis, 21 Mei 2026 - 07:34 WIB
Masdalina menjelaskan, sejumlah referensi medis menyatakan strain HPS atau HCPS lebih banyak menyebabkan komplikasi gagal jantung fatal. Penderitanya juga termasuk kelompok risiko rentan, yakni lansia dan punya penyakit komorbid atau penyerta. Namun, Masdalina menyarankan agar masyarakat tidak panik soal Hantavirus karena tingkat kematiannya jauh lebih rendah dari jenis di Amerika Selatan. Yang terpenting adalah, tetap waspada terhadap pencetus virus, yakni tikus liarseperti tikus got (Rattus norvegicus) atau tikus rumah (Rattus rattus).
Selain itu, kita juga harus menghindari paparan kotoran, urin, dan liur tikus yang memungkinkan partikel virusnya terhirup pernapasan. Langkah selanjutnya adalah menutup rapat wadah makanan agar tidak diendus tikus. Sedangkan yang paling penting adalah menerapkan perilaku hidup bersih, dan mengkonsumsi makanan sehat. Kalau berkontak dengan pelancong dari Amerika Selatan dan bergejala, segera datangi fasilitas kesehatan terdekat agar bisa ditangani medis sejak dini. Jangan anggap remeh karena fase perburukan gejalanya sangat cepat, ujar Masdalina.
Hantavirus sendiri sebenarnya bukan virus baru. Virus ini sudah diidentifikasi sejak tahun 1950-an saat perang antara Jepang dan Korea. Ketika itu, ada 3 ribu tentara PBB yang terinfeksi Hantavirus jenis Seoul Virus (SEOV). Jenis ini pun tingkat kematiannya tidak sebesar varian Andes. Masdalina menyebutkan, Hantavirus memiliki lebih dari 300 strain, yang 41 di antaranya menginfeksi manusia. Adapun di Indonesia, Hantavirus sudah ada sejak ada sejak 1978 yang diidentifikasi pada tikus. Sedangkan Hantavirus yang menjangkiti manusia ditemukan kali pertama di Indonesia pada 1991.
Indonesia Butuh Laboratorium Level Tinggi
Berkaca pada masa pandemi Covid-19, Indonesia dinilai perlu untuk memiliki laboratorium penelitian dengan level yang tinggi. Dari empat level laboratorium yang disebut BSL (Bio-Safety Level), Indonesia baru memiliki level ke-3. Menurut saya kita sudah membutuhkan BSL-4. Setidaknya bukan untuk merekayasa virus. Tapi bagaimana mempercepat produksi vaksin dan obat, jika terjadi sesuatu, ujar Masdalina kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 20 Mei 2026.
Selain itu, kita juga harus menghindari paparan kotoran, urin, dan liur tikus yang memungkinkan partikel virusnya terhirup pernapasan. Langkah selanjutnya adalah menutup rapat wadah makanan agar tidak diendus tikus. Sedangkan yang paling penting adalah menerapkan perilaku hidup bersih, dan mengkonsumsi makanan sehat. Kalau berkontak dengan pelancong dari Amerika Selatan dan bergejala, segera datangi fasilitas kesehatan terdekat agar bisa ditangani medis sejak dini. Jangan anggap remeh karena fase perburukan gejalanya sangat cepat, ujar Masdalina.
Hantavirus sendiri sebenarnya bukan virus baru. Virus ini sudah diidentifikasi sejak tahun 1950-an saat perang antara Jepang dan Korea. Ketika itu, ada 3 ribu tentara PBB yang terinfeksi Hantavirus jenis Seoul Virus (SEOV). Jenis ini pun tingkat kematiannya tidak sebesar varian Andes. Masdalina menyebutkan, Hantavirus memiliki lebih dari 300 strain, yang 41 di antaranya menginfeksi manusia. Adapun di Indonesia, Hantavirus sudah ada sejak ada sejak 1978 yang diidentifikasi pada tikus. Sedangkan Hantavirus yang menjangkiti manusia ditemukan kali pertama di Indonesia pada 1991.
Indonesia Butuh Laboratorium Level Tinggi
Berkaca pada masa pandemi Covid-19, Indonesia dinilai perlu untuk memiliki laboratorium penelitian dengan level yang tinggi. Dari empat level laboratorium yang disebut BSL (Bio-Safety Level), Indonesia baru memiliki level ke-3. Menurut saya kita sudah membutuhkan BSL-4. Setidaknya bukan untuk merekayasa virus. Tapi bagaimana mempercepat produksi vaksin dan obat, jika terjadi sesuatu, ujar Masdalina kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 20 Mei 2026.
Lihat Juga :