Perjalanan Usaha Kuliner Lokal yang Berawal dari Gerobak Kaki Lima

Rabu, 10 Juni 2026 - 13:44 WIB
Bagi pendirinya, konsep halal tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan sertifikasi pada produk, tetapi juga menyentuh pembentukan budaya kerja di internal perusahaan. Evalinda menyebut perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan membangun sumber daya manusia di dalam organisasi.

“Kami sadar sekali bahwa banyak karyawan kami yang low education, low economy, low religion. Saat itu hal itu menjadi PR besar bagi kami bagaimana caranya untuk mengubah, sehingga kami memunculkan aturan bernama ‘Isian Kumparan’, yaitu mewajibkan ibadah sunnah untuk semua karyawan. Karena saya percaya konsep rezeki itu adalah pemberian, bukan dari hebatnya kita, produk, dan pelayanan—itu sudah pasti harus ada dan diterapkan, namun 90%-nya adalah pemberian,” ungkap Evalinda, pada saat acara perluncuran Buku Authentic Halal Brand, 20 Mei 2026.

Selain penguatan dari sisi produk dan operasional, d’BestO juga menjalankan berbagai kegiatan sosial. Aksi tersebut mencakup bantuan saat pandemi, dukungan untuk korban bencana, hingga kegiatan kemanusiaan untuk Palestina melalui donasi dan pembagian paket makanan.

Perusahaan juga memberikan apresiasi kepada karyawan melalui program umrah serta sejumlah kegiatan pengembangan diri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang tidak hanya berfokus pada bisnis, tetapi juga pada nilai kepedulian dan kepercayaan.

Dalam perkembangannya, d’BestO mulai dikenal lebih luas pada 2010 dengan slogan “Jagonya Rasa”. Salah satu menu yang melekat dengan brand ini adalah Ayam Sadas, yang menjadi bagian dari upaya inovasi menu untuk menjangkau konsumen keluarga.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!