Review Film Imperfect: Ketidaksempurnaan Menjadikan Kita Manusia
Rabu, 23 September 2020 - 13:58 WIB
Film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan mengkritisi pandangan tentang perempuan yang harus tampil dengan standar kecantikan yang sama. Foto/Starvision Plus
JAKARTA - Kita hidup di dunia yang dipenuhi kode. Berseliweran di segala lini, berkelindan di seantero waktu.
Hingga kita tak sadar betapa kode-kode itu menyelusup ke bawah benak sadar dan menyetel sebuah pemahaman baru. Salah satunya tentang sosok perempuan.
Kode-kode itu menjebak kita dengan pemahaman sempit bahwa perempuan bisa disebut cantik jika ia tinggi, langsing dan berkulit putih/mulus. Kode-kode itu menyerbu ke semua orang, tak terkecuali saya.
Saya adalah ayah dengan dua orang anak perempuan. Yang tertua terlahir cantik dengan standar yang kita pahami. (Baca Juga: Film Pendek Laka: Gagapnya Anak Muda Saat Ngebet Pansos )
Sementara adiknya terlahir dengan rupa biasa-biasa saja. Tanpa sadar, saya sempat membedakan perlakuan saya terhadap kedua anak perempuan saya itu hingga kesadaran baru datang pada saya: adiknya ternyata punya kualitas yang tidak dipunyai kakaknya, yaitu ia cekatan, gesit, selalu ingin tahu.
Foto: Starvision Plus
Saya segera mengoreksi perlakuan berbeda itu dan menganggap kedua anak perempuan saya sama cantiknya. Kecantikan itu sesungguhnya tidak satu dimensi, ia tidak bisa dikategorikan dalam beberapa penilaian yang ajek. Kecantikan harusnya selalu lentur karena perempuan pun sangat heterogen.
Hingga kita tak sadar betapa kode-kode itu menyelusup ke bawah benak sadar dan menyetel sebuah pemahaman baru. Salah satunya tentang sosok perempuan.
Kode-kode itu menjebak kita dengan pemahaman sempit bahwa perempuan bisa disebut cantik jika ia tinggi, langsing dan berkulit putih/mulus. Kode-kode itu menyerbu ke semua orang, tak terkecuali saya.
Saya adalah ayah dengan dua orang anak perempuan. Yang tertua terlahir cantik dengan standar yang kita pahami. (Baca Juga: Film Pendek Laka: Gagapnya Anak Muda Saat Ngebet Pansos )
Sementara adiknya terlahir dengan rupa biasa-biasa saja. Tanpa sadar, saya sempat membedakan perlakuan saya terhadap kedua anak perempuan saya itu hingga kesadaran baru datang pada saya: adiknya ternyata punya kualitas yang tidak dipunyai kakaknya, yaitu ia cekatan, gesit, selalu ingin tahu.
Foto: Starvision Plus
Saya segera mengoreksi perlakuan berbeda itu dan menganggap kedua anak perempuan saya sama cantiknya. Kecantikan itu sesungguhnya tidak satu dimensi, ia tidak bisa dikategorikan dalam beberapa penilaian yang ajek. Kecantikan harusnya selalu lentur karena perempuan pun sangat heterogen.
Lihat Juga :