Bangun dan Revitalisasi Sistem Pendidikan Seni dan Budaya lewat ODA

Sabtu, 26 September 2020 - 21:36 WIB
Direktur Arcolabs, Jeong Ok Jeon melihat ini sebagai tantangan untuk metode kolaborasi baru. Baginya hal ini menjadi kali pertama bekerja dengan orang-orang dan mitra baru yang ditemui melalui layar virtual. "Tetapi kami pun belajar bahwa dalam keterbatasan. Ternyata program ini bisa tetap berjalan lancar dan efektif," ujarnya.

Sejak digelar dari Juli hingga September terdapat 4 kegiatan yang melibatkan berbagai peserta, antara lain Lokakarya Seniman Pengajar pada 25-26 Juli, Lokakarya Seniman Lokal (5-10 Agustus), Lokakarya dan Pelatihan Untuk Guru dan Siswa (7-11 September), dan Presentasi Akhir (25 September).

Seniman Fransisca Retno yang juga sebagai edukator mengatakan program pertukaran ini memberikan perspektif baru mengenai praktik artistik di luar Jakarta. "Saya pribadi kagum dan terinspirasi dari dedikasi para seniman di Sinau, yang menggunakan keahlian mereka untuk mengkomunikasikan permasalahan sosial dan lingkungan di Cirebon. Menurut saya ini betul-betul memperlihatkan bagaimana pendekatan seni dan artistik bisa berdampak lebih luas dari seni itu sendiri dan berfungsi lebih besar bagi komunitas," paparnya.

(Baca juga: Studi: Anak-Anak Memiliki Sistem Kekebalan Covid-19 yang Lebih Baik )

Hal senada disampaikan Koordinator Sinau Art, Nico Broer. Berkegiatan online sebetulnya adalah pengalaman baru baginya bersama teman-teman. "Tetapi di sini kami belajar bagaimana mengeksplorasi pendekatan seni lebih jauh lagi ke dalam beragam metode yang menyenangkan dan dapat dilakukan oleh siswa sekolah. Mudah-mudahan ini juga membuat seni lebih bisa diakses oleh masyarakat," ungkapnya.
(nug)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!