Cerita Mahasiswa-mahasiswa Indonesia Hadapi Pandemi di Luar Negeri
Selasa, 05 Mei 2020 - 16:00 WIB
Perdana Menteri Inggris yang baru-baru ini pulih dari COVID-19, Boris Johnson, memberikan arahan untuk lockdown di negaranya. Lockdown di sini berarti masyarakat dilarang untuk berkegiatan di luar rumah, kecuali untuk keperluan kesehatan dan belanja kebutuhan makanan.
Reghina Arinda Dewi, mahasiswi S2 di University of Warwick mengatakan masyarakat boleh keluar rumah untuk berolahraga dan memeriksakan kesehatannya. Cuma, tempat-tempat umum mayoritas ditutup. Bahkan cuma sedikit restoran yang masih buka untuk melayani pemesanan pesan antar.
Kondisi jalan di London, Inggris. Foto: CNBC
Menurut Reghina, pemberlakuan arahan ini sangat efektif. Masyarakat di kota Coventry tempatnya tinggal sangat patuh. Saking patuhnya, kota Coventry pun jadi kayak kota mati.
"Untuk belanja, diberlakukan jalur satu arah di dalam supermarket dan jarak antar-orang minimal satu meter. Transportasi umum juga dikurangi, bus yang biasanya beroperasi tiap 15 menit sekali jadi 40 menit sekali," terang Reghina.
Berkenaan dengan perkuliahan, baik perkuliahan maupun ujian dilakukan secara daring. Kampus memfasilitasi video conference untuk setiap mata kuliahnya.
"Tapi kalau buat aku gak terlalu berpengaruh karena semester ini aku cuma ambil satu mata kuliah dan lagi selesaikan disertasi," ujarnya.
Nah, terbukti, kan, kita gak sendiri menjalani masa perkuliahan yang terasa sulit ini. Tetap sabar, jangan lupa selalu bersyukur, dan tetap semangat sembari berdoa semoga pandemi ini bisa segera usai.
Iffah Sulistyawati Hartana
Kontributor GenSINDO
Institut Teknologi Bandung
Instagram: @iffahshrtn
Reghina Arinda Dewi, mahasiswi S2 di University of Warwick mengatakan masyarakat boleh keluar rumah untuk berolahraga dan memeriksakan kesehatannya. Cuma, tempat-tempat umum mayoritas ditutup. Bahkan cuma sedikit restoran yang masih buka untuk melayani pemesanan pesan antar.
Kondisi jalan di London, Inggris. Foto: CNBC
Menurut Reghina, pemberlakuan arahan ini sangat efektif. Masyarakat di kota Coventry tempatnya tinggal sangat patuh. Saking patuhnya, kota Coventry pun jadi kayak kota mati.
"Untuk belanja, diberlakukan jalur satu arah di dalam supermarket dan jarak antar-orang minimal satu meter. Transportasi umum juga dikurangi, bus yang biasanya beroperasi tiap 15 menit sekali jadi 40 menit sekali," terang Reghina.
Berkenaan dengan perkuliahan, baik perkuliahan maupun ujian dilakukan secara daring. Kampus memfasilitasi video conference untuk setiap mata kuliahnya.
"Tapi kalau buat aku gak terlalu berpengaruh karena semester ini aku cuma ambil satu mata kuliah dan lagi selesaikan disertasi," ujarnya.
Nah, terbukti, kan, kita gak sendiri menjalani masa perkuliahan yang terasa sulit ini. Tetap sabar, jangan lupa selalu bersyukur, dan tetap semangat sembari berdoa semoga pandemi ini bisa segera usai.
Iffah Sulistyawati Hartana
Kontributor GenSINDO
Institut Teknologi Bandung
Instagram: @iffahshrtn
(it)
Lihat Juga :