Film: Nostalgia Kocak Masa Kecil Bareng Juki dan Sandal Buluknya

Jum'at, 16 Oktober 2020 - 14:00 WIB
Foto: Genflix

Film pendek "Juki dan Sendal Gacoannya" jelas lucu, mengingatkan kita akan masa kecil yang penuh warna. Apalagi sutradara Kenny Gulardi sangat pas memotret semua atribut tentang kehidupan di perumahan padat penduduk.

Mulai dari lanskap kampung dengan jembatan dan kalinya, gang sempit, kucing liar kurus kering, hingga pilihan kata-kata yang sering dianggap kasar oleh mereka yang 'intelek'. Tapi memang begitulah kehidupan di area kampung; keras, tapi banyak juga serunya.

Didukung akting yang natural (juga komikal) dari seluruh pemainnya, serta gimmick visual a la komik dalam penceritaannya, film pendek ini benar-benar sempurna untuk unsur komedinya.



Foto: Genflix

Bukan sekadar hiburan, "Juki dan Sendal Gacoannya" secara gak langsung juga ngajak kita untuk bercermin dengan cara bergaul anak-anak.

Mereka boleh jadi bicara dengan kata-kata kasar, mungkin bisa dibilang bullying verbal, tapi tak ada karakter lemah dalam film pendek ini. (Baca Juga: Review Tunnel Indonesia Season 1: Sajian Detektif Lokal yang Bukan Sekadar Remake Biasa )

Juki, misalnya. Dengan tubuh gemuknya, dia jadi sasaran empuk untuk dikata-katai. Teman-temannya menghinanya dengan sebutan 'lemak jahat'. Tapi Juki bukan karakter protagonis di sinetron yang menangis tiap kali dizalimi. Juki melawan balik, tentunya dengan kata-kata kasar juga.

Tapi apakah gara-gara itu mereka langsung ribut sampai menyebabkan riot di kampungnya? Tentu gak. (Baca Juga:

Julukan-julukan buruk itu adalah makanan sehari-hari anak kampung, dan dalam taraf tertentu, itu menunjukkan kedekatan dengan teman-teman mainnya. Karena tiap kali ada teman yang butuh bantuan, pasti mereka bakal menolong temannya seberapa pun merepotkannya. Itulah yang terjadi pada Juki saat dia dikejar-kejar 'orang gila'.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!