Jangan Abai, Kasus Anak Terpapar COVID-19 Masih Tinggi
Minggu, 18 Oktober 2020 - 21:04 WIB
Melihat kondisi ini, dr. Melia meminta agar para orangtua tidak menganggap remeh risiko paparan COVID-19 pada anak. Ia bercerita, beberapa bulan lalu pernah ada satu pasien berusia 10 bulan terkena COVID-19. Rupanya sang anak sering diajak oleh bapaknya pergi naik motor untuk mencari takjil saat bulan puasa lalu.
"Padahal kalau anak datang dengan keluhan, batuk, pilek, pneumonia, sesak, maka protokolnya akan dianggap sebagai PDP dan harus diswab. Ini sangat tidak nyaman bagi orang dewasa, terlebih anak-anak," ujarnya.
Tes swab adalah pemeriksaan untuk mendeteksi virus corona. Tes ini juga disebut tes PCR (polymerase chain reaction). Pada tes PCR, sampel yang biasa digunakan adalah apus tenggorok di belakang hidung (nasofaring) atau belakang mulut (orofaring). Nantinya, pasien akan diminta sedikit mendongak dan dimasukkan cotton bud dengan tangkai panjang ke dalam lubang hidung pasien hingga mencapai bagian belakang hidung. Dokter akan mengambil sampel dengan cara menyapukan dan memutar alat swab tersebut selama beberapa detik.
Tentu prosedur ini akan membuat anak tidak nyaman dan mungkin juga terasa sakit. Karenanya, dr. Melia mewanti-wanti agar anak-anak tetap di rumah saja dan tidak bepergian.
"Bepergian boleh ke tempat yang tidak ada orangnya. Bersepeda boleh sendiri asal tidak berombongan," sarannya.
Ingat, jangan karena anak merasa jenuh di rumah lalu orangtua memutuskan mengajak ke mall atau ke tempat keramaian.
"Padahal kalau anak datang dengan keluhan, batuk, pilek, pneumonia, sesak, maka protokolnya akan dianggap sebagai PDP dan harus diswab. Ini sangat tidak nyaman bagi orang dewasa, terlebih anak-anak," ujarnya.
Tes swab adalah pemeriksaan untuk mendeteksi virus corona. Tes ini juga disebut tes PCR (polymerase chain reaction). Pada tes PCR, sampel yang biasa digunakan adalah apus tenggorok di belakang hidung (nasofaring) atau belakang mulut (orofaring). Nantinya, pasien akan diminta sedikit mendongak dan dimasukkan cotton bud dengan tangkai panjang ke dalam lubang hidung pasien hingga mencapai bagian belakang hidung. Dokter akan mengambil sampel dengan cara menyapukan dan memutar alat swab tersebut selama beberapa detik.
Tentu prosedur ini akan membuat anak tidak nyaman dan mungkin juga terasa sakit. Karenanya, dr. Melia mewanti-wanti agar anak-anak tetap di rumah saja dan tidak bepergian.
"Bepergian boleh ke tempat yang tidak ada orangnya. Bersepeda boleh sendiri asal tidak berombongan," sarannya.
Ingat, jangan karena anak merasa jenuh di rumah lalu orangtua memutuskan mengajak ke mall atau ke tempat keramaian.
Lihat Juga :