Kontroversi Charlie Hebdo: Kebebasan Berekspresi atau Intoleransi?
Kamis, 29 Oktober 2020 - 22:13 WIB
Salah satu yang kontroversial adalah karikatur penggambaran “tuhan semua agama” yang sedang membawa senjata. Dibuat menjadi sampul majalah mereka untuk memperingati satu tahun tragedi penembakan di kantor Charlie Hebdo.
Pihak Charlie Hebdo menganggap keberadaan agama dan konsep ketuhananlah yang membunuh teman-teman mereka.
Menyikapi hal ini, Vatikan angkat bicara dan berkata bahwa Charlie Hebdo sekali lagi “lupa” kalau pemimpin berbagai agama di dunia menolak kekerasan atas nama agama.
Foto: AFP
Yang melakukan penembakan di kantor mereka hanyalah oknum. Paus Fransiskus juga berkomentar bahwa menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kebencian adalah penistaan.
Untuk masalah kebebasan berekspresi pun, Paus Fransiskus menganggap ada batasannya karena agama mempunyai martabat. “Jika seorang teman baik mengejek ibumu, sebagai orang kesayanganmu, pasti temanmu itu akan mendapatkan ganjarannya. Hal itu wajar. Kamu tidak bisa mengejek seenaknya,” komentar Paus Fransiskus.
Karena sering dikritik banyak agama, Charlie Hebdo pun juga mengeluarkan karikatur sebagai satire untuk pengkritik mereka.
Satire Politik yang Menyinggung Tragedi Jatuhnya Kapal Militer Rusia
Pada 25 Desember 2016 silam, sebuah pesawat militer Rusia jatuh di wilayah Laut Hitam dan menewaskan 92 orang.
Setelahnya, Charlie Hebdo mengeluarkan karikatur bergambar pesawat jatuh dan gambar seorang tentara Rusia bernyanyi dan mengejek bahwa tentara yang bernyanyi tersebut gembira ketika pesawat mereka jatuh ke Laut Hitam.
Juru bicara pemerintah Rusia menanggapi hal ini sebagai penistaan murni. Ia menganggap kejadian pesawat jatuh ini tidak ada hubungannya dengan demokrasi atau kebebasan berekspresi. (Baca Juga: Kasus Irene Red Velvet Ungkap Perisakan dan Standar Ganda Perempuan dalam K-Pop )
Karikatur Cabul Erdogan
Kontroversi terbaru yang mencuat adalah karikatur cabul Erdogan pada sampul Charlie Hebdo edisi terbaru. Erdogan digambarkan sedang memegang bir dan mengangkat rok seorang perempuan.
Pihak Charlie Hebdo menganggap keberadaan agama dan konsep ketuhananlah yang membunuh teman-teman mereka.
Menyikapi hal ini, Vatikan angkat bicara dan berkata bahwa Charlie Hebdo sekali lagi “lupa” kalau pemimpin berbagai agama di dunia menolak kekerasan atas nama agama.
Foto: AFP
Yang melakukan penembakan di kantor mereka hanyalah oknum. Paus Fransiskus juga berkomentar bahwa menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kebencian adalah penistaan.
Untuk masalah kebebasan berekspresi pun, Paus Fransiskus menganggap ada batasannya karena agama mempunyai martabat. “Jika seorang teman baik mengejek ibumu, sebagai orang kesayanganmu, pasti temanmu itu akan mendapatkan ganjarannya. Hal itu wajar. Kamu tidak bisa mengejek seenaknya,” komentar Paus Fransiskus.
Karena sering dikritik banyak agama, Charlie Hebdo pun juga mengeluarkan karikatur sebagai satire untuk pengkritik mereka.
Satire Politik yang Menyinggung Tragedi Jatuhnya Kapal Militer Rusia
Pada 25 Desember 2016 silam, sebuah pesawat militer Rusia jatuh di wilayah Laut Hitam dan menewaskan 92 orang.
Setelahnya, Charlie Hebdo mengeluarkan karikatur bergambar pesawat jatuh dan gambar seorang tentara Rusia bernyanyi dan mengejek bahwa tentara yang bernyanyi tersebut gembira ketika pesawat mereka jatuh ke Laut Hitam.
Juru bicara pemerintah Rusia menanggapi hal ini sebagai penistaan murni. Ia menganggap kejadian pesawat jatuh ini tidak ada hubungannya dengan demokrasi atau kebebasan berekspresi. (Baca Juga: Kasus Irene Red Velvet Ungkap Perisakan dan Standar Ganda Perempuan dalam K-Pop )
Karikatur Cabul Erdogan
Kontroversi terbaru yang mencuat adalah karikatur cabul Erdogan pada sampul Charlie Hebdo edisi terbaru. Erdogan digambarkan sedang memegang bir dan mengangkat rok seorang perempuan.
Lihat Juga :