Operasi Elektif Aman Dilakukan Selama Pandemi
Jum'at, 06 November 2020 - 13:19 WIB
Foto/dok
JAKARTA - Demi keamanan pasien, operasi elektif dihentikan selama masa pandemi . Namun, penelitian terbaru menyatakan operasi terencana ini cukup aman dilakukan.
Selama protokol kesehatan dijalani dengan ketat, maka operasi elektif pada masa pandemi Covid-19 aman untuk dilakukan dan tidak berpotensi menjadi sumber penularan virus corona. Hasil ini didapat dari sebuah penelitian para staf di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) terhadap 35 pasien ortopedi yang menjalani operasi elektif dari bulan April hingga Mei 2020. Penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal Annals of Medicine and Surgery. (Baca: Amalan Ringan Ini Bisa Menjadi Pembuka Berkah)
Sebanyak 28 staf FKUI-RSCM yang berasal dari Departemen Ortopedi dan Traumatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, dan Departemen Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala Leher (THT-KL) terlibat dalam penelitian ini. Seluruh pasien yang menjadi subjek penelitian wajib menjalani pemeriksaan laboratorium (tes darah rutin dan hitung jenis leukosit), foto rontgen paru, dan skrining Covid-19 dengan rapid test antibodi IgM-IgG SARS-CoV-2 (#satgascovid19 #ingatpesanibu #jagajarak #pakaimasker# jagajarakhindarikerumunan #cucitangan#cucitangandengansabun).
Mereka yang memiliki hasil pemeriksaan rapid test positif tidak diikutsertakan dalam penelitian. Begitu pula dengan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 melalui pemeriksaan RT-PCR sampel usap hidung dan tenggorok sebelumnya.
Selama protokol kesehatan dijalani dengan ketat, maka operasi elektif pada masa pandemi Covid-19 aman untuk dilakukan dan tidak berpotensi menjadi sumber penularan virus corona. Hasil ini didapat dari sebuah penelitian para staf di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) terhadap 35 pasien ortopedi yang menjalani operasi elektif dari bulan April hingga Mei 2020. Penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal Annals of Medicine and Surgery. (Baca: Amalan Ringan Ini Bisa Menjadi Pembuka Berkah)
Sebanyak 28 staf FKUI-RSCM yang berasal dari Departemen Ortopedi dan Traumatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, dan Departemen Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala Leher (THT-KL) terlibat dalam penelitian ini. Seluruh pasien yang menjadi subjek penelitian wajib menjalani pemeriksaan laboratorium (tes darah rutin dan hitung jenis leukosit), foto rontgen paru, dan skrining Covid-19 dengan rapid test antibodi IgM-IgG SARS-CoV-2 (#satgascovid19 #ingatpesanibu #jagajarak #pakaimasker# jagajarakhindarikerumunan #cucitangan#cucitangandengansabun).
Mereka yang memiliki hasil pemeriksaan rapid test positif tidak diikutsertakan dalam penelitian. Begitu pula dengan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 melalui pemeriksaan RT-PCR sampel usap hidung dan tenggorok sebelumnya.
Lihat Juga :