Di Tengah Pandemi Corona, Bara Seni Itu Tetap Menyala

Sabtu, 07 November 2020 - 07:45 WIB
Tak hanya membuat aturan protokol kesehatan bagi seniman dan panggung pertunjukan, Direktorat PTLK juga menginisiasi Program Pemberian Layanan Pelindungan Pelaku Budaya terdampak Covid-19. Pembinaan tersebut dilaksanakan dengan mendorong para pelaku budaya untuk tetap berkarya dan memublikasikan hasil karya mereka melalui wahana virtual. (Baca juga: Perkuat Imunitas dengan Konsumsi Buah)

Patut dipahami, dengan tidak ada panggung pertunjukan selama pandemi, banyak seniman yang kehilangan mata pencariannya sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Namun, kreativitas tidak boleh terhenti. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga api kesenian tetap menyala.

Pameran Daring ala GNI

Sementara itu, program Pameran Manifesto yang biasa rutin digelar setiap tahun oleh Galeri Nasional Indonesia (GNI) pada tahun ini terpaksa dilakukan secara daring. Pameran Daring Manifesto VII bertema “PANDEMI” yang telah disajikan kepada publik sejak 8 Agustus 2020 melalui laman https://galnasonline.id/ ini menampilkan 217 karya video dari 204 peserta yang berasal dari Indonesia dan mancanegara dengan berbagai latar belakang profesi.

Dibanding enam Pameran Manifesto sebelumnya, proyek kurasi Manifesto VII kali ini disuguhkan secara berbeda. Bukan hanya format karya yang tak biasa, yaitu ekspresi karya seni rupa dengan durasi waktu, tapi juga bentuk penyelenggaraan kegiatannya yang dilakukan secara daring.

Tema “PANDEMI” yang dipilih juga berkaitan dengan situasi sosial-kultural saat ini yang tengah berubah, termasuk perubahan format penyelenggaraan pameran seni rupa yang umumnya ramai menghidupkan arena pertemuan para seniman dengan publiknya. Format peserta yang terlibat dalam pameran ini pun berubah. Makanya tak heran jika sebagian pihak bertanya, kenapa publik juga disertakan? Jika begitu, siapa sebenarnya yang menjadi publik bagi pameran ini? (Baca juga: Kampanye Tatap Muka Meningkat, Kampanye Daring Turun)

Pertanyaan-pertanyaan lain yang juga muncul adalah perkara bagaimana gagasan kurator pameran ini disusun? Apa yang diharapkan dari keputusan kuratorial (curatorial judgement) “PANDEMI” ini? Apakah penyelenggaraan pamerannya mampu memenuhi harapan dari rencana kuratorial para kurator? Semua pertanyaan aneh itu telah dikupas tuntas di pameran daring Manifesto VII “PANDEMI”, yang di dalamnya juga sudah digelar beberapa program publik, yakni acara Kurator BicaraPameran Daring MANIFESTO VII “PANDEMI”.

Lalu, Bicara RupaGagasan Kuratorial Manifesto VII “PANDEMI”: Tentang Kemungkinan dan Ketidakmungkinannya. Terakhir, sebagai program publik yang ketiga dari pameran ini digelar Bicara Rupa dengan tajuk Ontologi Layar: Representasi dalam Praktik Seni dan Budaya Media di Tengah Pandemi, berlangsung via Zoom dan live Facebook Galeri Nasional Indonesia kemarin.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!