Apa Peran Filsafat Dalam Era 4.0, Perlukah Mempelajarinya?
Kamis, 10 Desember 2020 - 14:29 WIB
(Baca Juga: Inilah Film dan Serial Netflix Favorit Penonton Indonesia pada 2020 )
Hal ini berbeda dengan konsep mengenai ilmu pengetahuan yang dikembangkan di negara-negara yang hebat dalam hal manufaktur seperti Cina dan Jepang.
“Kalau kita fokus ke hal-hal yang aplikatif saja, mesin sekarang berbeda loh dengan mesin dulu.
Kalau mesin dulu misalnya mesin uap, makin lama makin usang, nanti juga rusak. Kalau mesin sekarang, kita punya teknologi machine learning, mesin yang belajar. Semakin lama, dia semakin pintar, bukannya usang,” sambung Budiman.
Foto: Getty Images
Oleh sebab itu, menurutnya, keberadaan ilmu filsafat yang mempelajari tentang pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya menjadi sangat penting.
Karena, segala kemampuan manusia bisa jadi suatu waktu nanti bisa dilakukan oleh mesin.
Proses otomatisasi tidak lagi hanya terjadi di dunia industri, tapi bisa merambah ke kehidupan sehari-hari.
“Prediksi para ahli, katanya 2045 nanti Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) bisa melampaui kecerdasan manusia. Terus kita bisa apa?. Kita bisa mempertahankan kemampuan kita yang mungkin akan sulit dimiliki oleh mesin-mesin ini," jelasnya.
Yang dimaksud dengan kemampuan disini yaitu kemampuan untuk menjadi filosofis dalam banyak hal.
Seperti kemampuan untuk mencintai, mencari kebenaran dari sains murni, dan spiritualitas.
Terlepas apakahdi kemudian hari akan ada atau justru tidak ada mesin yang diciptakan dengan kemampuan itu, yang jelas kita akan tetap lebih unggul dari teknologi manapun dengan tetap berpegang padakemampuan tersebut.
Kemampuan untuk mencintai, mencari kebenaran dari sains murni, dan spiritualitas ini, diterjemahkan Budiman menjaditiga kemampuan dasar.
Yaitu cinta, cita, dan cipta. Menurutnya, manusia dapat diklasifikan ke dalam beberapa jenis dengantiga kemampuan dasar ini.
Hal ini berbeda dengan konsep mengenai ilmu pengetahuan yang dikembangkan di negara-negara yang hebat dalam hal manufaktur seperti Cina dan Jepang.
“Kalau kita fokus ke hal-hal yang aplikatif saja, mesin sekarang berbeda loh dengan mesin dulu.
Kalau mesin dulu misalnya mesin uap, makin lama makin usang, nanti juga rusak. Kalau mesin sekarang, kita punya teknologi machine learning, mesin yang belajar. Semakin lama, dia semakin pintar, bukannya usang,” sambung Budiman.
Foto: Getty Images
Oleh sebab itu, menurutnya, keberadaan ilmu filsafat yang mempelajari tentang pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya menjadi sangat penting.
Karena, segala kemampuan manusia bisa jadi suatu waktu nanti bisa dilakukan oleh mesin.
Proses otomatisasi tidak lagi hanya terjadi di dunia industri, tapi bisa merambah ke kehidupan sehari-hari.
“Prediksi para ahli, katanya 2045 nanti Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) bisa melampaui kecerdasan manusia. Terus kita bisa apa?. Kita bisa mempertahankan kemampuan kita yang mungkin akan sulit dimiliki oleh mesin-mesin ini," jelasnya.
Yang dimaksud dengan kemampuan disini yaitu kemampuan untuk menjadi filosofis dalam banyak hal.
Seperti kemampuan untuk mencintai, mencari kebenaran dari sains murni, dan spiritualitas.
Terlepas apakahdi kemudian hari akan ada atau justru tidak ada mesin yang diciptakan dengan kemampuan itu, yang jelas kita akan tetap lebih unggul dari teknologi manapun dengan tetap berpegang padakemampuan tersebut.
Kemampuan untuk mencintai, mencari kebenaran dari sains murni, dan spiritualitas ini, diterjemahkan Budiman menjaditiga kemampuan dasar.
Yaitu cinta, cita, dan cipta. Menurutnya, manusia dapat diklasifikan ke dalam beberapa jenis dengantiga kemampuan dasar ini.
Lihat Juga :