Kamu Takut Jatuh cinta? Bisa Jadi Kamu Terkena Filofobia
Jum'at, 25 Desember 2020 - 21:00 WIB
Faktor Risiko Filofobia
Filofobia kerap dialami oleh seseorang dengan trauma atau luka masa lalu. Menurut Scott Dehorty (LCSW-C dan direktur eksekutif di Maryland House Detox, Delphi Behavioral Health Group), ketakutan yang terjadi adalah ketakutan jika rasa sakit itu akan berulang dan risikonya tidak sebanding dengan kesempatan yang dimilikinya untuk bisa sembuh dari kesakitannya.
"Jika seseorang terluka parah atau ditinggalkan saat masih kecil, mereka mungkin enggan menjadi dekat dengan seseorang yang mungkin melakukan hal yang sama kepada mereka. Reaksi ketakutan yang mereka keluarkan adalah menghindari hubungan agar dapat menghindari rasa sakit. Semakin seseorang menghindari sumber ketakutan mereka, semakin besar pula ketakutan itu akan ada," ujarnya.
Fobia yang lebih spesifik mungkin juga terkait dengan genetika dan lingkungan. Menurut Mayo Clinic dalam beberapa kasus fobia yang lebih spesifik dapat berkembang karena perubahan fungsi otak. (Baca Juga: Cerita Mereka yang Berhasil Lolos dari Jebakan Hubungan Beracun )
Foto: Bailey/Unsplash
Diagnosis
Karena filofobia tidak termasuk ke dalam Diagnostic and Statistical Manual (DSM) dari American Psychiatric Association, dokter tidak akan memberikan diagnosis resmi tentang filofobia. Namun, kamu perlu segera mendatangi ahli kalau rasa takut yang kamu rasakan semakin menjadi-jadi. Nantinya, dokter atau terapis akan mengevaluasi gejala serta riwayat medis, psikiatri, dan sosial yang kamu miliki.
Jika tidak segera ditangani, filofobia bisa meningkatkan risiko komplikasi, termasuk isolasi dari kehidupan sosial, depresi, dan gangguan kecemasan, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, dan peningkatan risiko bunuh diri.
Pengobatan
Ada berbagai macam pengobatan yang dapat dilakukan bergantung pada tingkat keparahan fobia yang dialami. Beberapa pilihan di antaranya adalah terapi, pengobatan perubahan gaya hidup, atau kombinasi keduanya. (Baca Juga: 6 Cara Menolong Diri Sendiri saat Kena Masalah Kesehatan Mental )
Filofobia kerap dialami oleh seseorang dengan trauma atau luka masa lalu. Menurut Scott Dehorty (LCSW-C dan direktur eksekutif di Maryland House Detox, Delphi Behavioral Health Group), ketakutan yang terjadi adalah ketakutan jika rasa sakit itu akan berulang dan risikonya tidak sebanding dengan kesempatan yang dimilikinya untuk bisa sembuh dari kesakitannya.
"Jika seseorang terluka parah atau ditinggalkan saat masih kecil, mereka mungkin enggan menjadi dekat dengan seseorang yang mungkin melakukan hal yang sama kepada mereka. Reaksi ketakutan yang mereka keluarkan adalah menghindari hubungan agar dapat menghindari rasa sakit. Semakin seseorang menghindari sumber ketakutan mereka, semakin besar pula ketakutan itu akan ada," ujarnya.
Fobia yang lebih spesifik mungkin juga terkait dengan genetika dan lingkungan. Menurut Mayo Clinic dalam beberapa kasus fobia yang lebih spesifik dapat berkembang karena perubahan fungsi otak. (Baca Juga: Cerita Mereka yang Berhasil Lolos dari Jebakan Hubungan Beracun )
Foto: Bailey/Unsplash
Diagnosis
Karena filofobia tidak termasuk ke dalam Diagnostic and Statistical Manual (DSM) dari American Psychiatric Association, dokter tidak akan memberikan diagnosis resmi tentang filofobia. Namun, kamu perlu segera mendatangi ahli kalau rasa takut yang kamu rasakan semakin menjadi-jadi. Nantinya, dokter atau terapis akan mengevaluasi gejala serta riwayat medis, psikiatri, dan sosial yang kamu miliki.
Jika tidak segera ditangani, filofobia bisa meningkatkan risiko komplikasi, termasuk isolasi dari kehidupan sosial, depresi, dan gangguan kecemasan, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, dan peningkatan risiko bunuh diri.
Pengobatan
Ada berbagai macam pengobatan yang dapat dilakukan bergantung pada tingkat keparahan fobia yang dialami. Beberapa pilihan di antaranya adalah terapi, pengobatan perubahan gaya hidup, atau kombinasi keduanya. (Baca Juga: 6 Cara Menolong Diri Sendiri saat Kena Masalah Kesehatan Mental )
Lihat Juga :