15 Destinasi Dunia Ini Rusak karena Overtourism

Minggu, 17 Mei 2020 - 10:45 WIB
Awal 2019, sebuah protes terhadap pariwisata di kota berubah menjadi kekerasan ketika pengunjuk rasa menyerang sebuah bus wisata dan hotel. Objek wisata populer bahkan telah mengubah aturan mereka sebagai akibat dari kegiatan wisata.

La Boqueria, pasar publik besar, melarang kelompok wisatawan lebih dari 15 orang pada 2015. Sebelum pelarangan, kelompok besar wisatawan sering memblokir lalu lintas pejalan kaki saat mengambil foto, menyebabkan gangguan bagi vendor dan pelanggan tetap.

11. New York, AS



Kota New York telah menjadi tujuan liburan populer selama bertahun-tahun. The New York Times melaporkan awal 2018 New York memiliki sekitar 113.000 kamar hotel. Dari pasar hotel yang terus tumbuh hingga menjamurnya lokasi-lokasi berswa foto (selfie) yang Instagramable membuat sejumlah kalangan menyebut bahwa para wisatawan telah ‘mengusai’ Kota New York saat musim liburan tiba.

12. Machu Picchu, Cusco, Peru



Desa Inca kuno Machu Picchu menarik ribuan wisatawan setiap hari. Mereka menyambangi areal seluas 2.500 hektare yang ditetapkan oleh Peru dan UNESCO sebagai situs warisan dunia pada 2011.

Sayangnya gelombang besar wisatawan ini membuat situs ini dalam bahaya yakni adanya kerusakan serius. Untuk mencegah kerusakan tambah parah, sejak 2019 Pemerintah Peru mengeluarkan kebijakan bahwa wisatawan diwajibkan menyewa pemandu dan mengikuti jalur tertentu ketika mengunjungi Machu Picchu.

13. Santorini, Yunani



Santorini adalah pulau indah di lepas pantai Yunani dan sering penuh turis selama musim panas. Menurut Conde Nast Traveler, sebanyak 790.000 orang dari 636 kapal pesiar mengunjungi Santorini pada 2015.

Sementara pulau hanya memiliki populasi lebih dari 15.000 orang. Dengan banyaknya turis membawa dampak negatif berupa aksi vandalisme di sejumlah lokasi ber-selfie.

14. Praha, Rep. Ceko



Praha adalah kota populer di kalangan wisatawan yang menyukai pesta karena menjamurnya bar dengan harga bir murah. Ketika sedang ‘berpesta’ turis-turis yang gaduh menjadi begitu tak terkendali sehingga para pejabat setempat harus turun tangan untuk menegakkan “waktu tenang malam” di seluruh kota pada pukul 10:00 malam.

15. Kuba



Menurut New York Times, jumlah wisatawan ke Kuba pernah memecahkan rekor yakni 3,5 juta pengunjung pada 2018. Hal itu telah menyebabkan kekurangan makanan bagi penduduk setempat.

Penyebabnya harga kebutuhan pokok meroket karena banyak hotel menimbunnya untuk melayani wisatawan. Karena hal itu Pemerintah Kuba telah menerapkan pembatasan harga untuk kebutuhan pokok agar harganya terjangkau bagi penduduk setempat.

Sumber: www.businessinsider.com
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!