Kamagasaki, Kota Kumuh yang Dihapus dari Peta Jepang

Selasa, 09 Maret 2021 - 16:10 WIB
Mengutip dari Center for Area Studies Indonesian Institutite of Sciences (P2W-LIPI), pada tahun 1960, Jepang mengalami masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun, pada masa itu masih ada sekitar 1,69 juta rumah tangga di seluruh Jepang yang hidup di bawah kemiskinan dan sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Pada masa itu, nama Kamagasaki atau Nishinari menjadi terkenal karena adanya Kantor Penempatan Tenaga Kerja Umum Nishinari (sekarang menjadi Airin Labor Center). Kantor ini yang menyebabkan ribuan orang usia produktif datang ke tempat ini demi mendapatkan pekerjaan harian. Pekerjaan harian ini dibuka tidak lain karena adanya pembangunan infrastruktur di kawasan Keihanshin, yang membutuhkan ribuan pekerja usia produktif untuk dipekerjakan di berbagai proyek kawasan Keihanshin. Di Kamagasaki-lah, orang berbondong-bondong untuk bekerja harian di sini.



Namun, upah kerja harian yang dibayarkan kepada para pekerja ternyata tidak cukup untuk menyewa rumah kontrakan atau tempat tinggal. Selain itu, warganya pun datang silih berganti sehingga tidak terdata dengan baik di administrasi kependudukan. Tingginya harga sewa tempat tinggal dan tidak adanya data kependudukan yang baik karena mobilitas yang tinggi menyebabkan banyak tunawisma. Angka kemiskinan pun tinggi di kota ini. Akibatnya, kota ini pun menjadi kumuh.

Angka kemiskinan pun berbanding lurus dengan angka kriminalitas di Kamagasaki. Di kota ini, sering terjadi kerusuhan. Tingkat konsumsi alkohol di sana pun tinggi ditambah dengan penduduk Kamagasaki lebih banyak yang berjenis kelamin pria, sehingga tempat ini tidak aman bagi para wanita. Di sini, jarang ditemukan anak-anak, lebih banyak warga yang paruh baya.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!