Banyak Anak Divonis Stunting karena Kurva WHO
Minggu, 28 Maret 2021 - 22:13 WIB
Menurutnya, seharusnya pengukuran pertumbuhan anak menggunakan kurva nasional yang lebih tepat diaplikasikan di Tanah Air. ”Data stunting di Indonesia dihitung berdasarkan kurva WHO, sementara literatur menunjukkan penggunaan kurva standar WHO bisa menyebabkan overestimasi angka stunting karena rerata tinggi badan yang tidak representatif terhadap suatu populasi,” terang dokter yang pernah menjadi fellow mahasiswa kedokteran di Harvard University dan Tulane University, Amerika Serikat ini.
Padahal banyak negara seperti Jepang, India, China, dan Arab Saudi tidak menggunakan kurva standar WHO agar pengukuran antropometri lebih tepat dan lebih menggambarkan keadaan negara mereka.
Stunting adalah kondisi anak yang pendek disertai dengan kondisi malnutrisi. Sedangkan anak pendek bisa disebabkan karena berbagai sebab. Misalnya kelainan hormon, masalah kromosom, kelainan tulang, atau faktor genetik karena orang tuanya juga berpostur pendek. Jadi, jika orangtuanya pendek, tidak mungkin anaknya tinggi.
“Anak stunting pasti pendek, tapi tidak semua anak pendek tergolong stunting. Anak stunting itu pendek dan kekurangan gizi. Kalau anak pendek status gizinya baik, mereka tidak stunting. Harusnya yang kita urus hanya yang pendek kurus. Inilah yang sebetulnya potensi yang kita anggap stunting,” jelas Prof. Aman yang pernah mendapatkan tanda penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Satya Lencana Karya Satya, pada 2009.
Kesalahan interprerasi terkait stunting bisa mendatangkan permasalahan sendiri. Bukan tidak mungkin anak Indonesia malah akhirnya berujung obesitas bahkan terkena ancaman penyakit metabolik. “Karena anak-anak normal juga dibuat menjadi gemuk. Akhirnya mereka diberi makan berlebihan,” bebernya.
Padahal banyak negara seperti Jepang, India, China, dan Arab Saudi tidak menggunakan kurva standar WHO agar pengukuran antropometri lebih tepat dan lebih menggambarkan keadaan negara mereka.
Stunting adalah kondisi anak yang pendek disertai dengan kondisi malnutrisi. Sedangkan anak pendek bisa disebabkan karena berbagai sebab. Misalnya kelainan hormon, masalah kromosom, kelainan tulang, atau faktor genetik karena orang tuanya juga berpostur pendek. Jadi, jika orangtuanya pendek, tidak mungkin anaknya tinggi.
“Anak stunting pasti pendek, tapi tidak semua anak pendek tergolong stunting. Anak stunting itu pendek dan kekurangan gizi. Kalau anak pendek status gizinya baik, mereka tidak stunting. Harusnya yang kita urus hanya yang pendek kurus. Inilah yang sebetulnya potensi yang kita anggap stunting,” jelas Prof. Aman yang pernah mendapatkan tanda penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Satya Lencana Karya Satya, pada 2009.
Kesalahan interprerasi terkait stunting bisa mendatangkan permasalahan sendiri. Bukan tidak mungkin anak Indonesia malah akhirnya berujung obesitas bahkan terkena ancaman penyakit metabolik. “Karena anak-anak normal juga dibuat menjadi gemuk. Akhirnya mereka diberi makan berlebihan,” bebernya.
Lihat Juga :