Pandemi Picu Rumah Sakit Beradaptasi dengan Penanganan Kegawatdaruratan

Sabtu, 10 April 2021 - 01:39 WIB
"Awal-awalnya kita gagap, tapi seluruh dunia juga kini telah memasuki tahap konsolidasi. Sangat penting untuk berkomunikasi agar semua pihak tidak berjalan sendiri-sendiri. Terlebih, kondisi Indonesia belum bisa dievaluasi karena tracing rate juga belum sesuai dengan standar WHO sehingga kita masih harus sangat waspada," ujar Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) yang juga dokter anastesi di RSUD Chatib Quzwaun Sarolangun Jambi, Dr Nirwan Satria Sp.An, yang membawakan materi berjudul Konsolidasi Lintas Organisasi Profesi dalam Menghadapi Pandemi Covid-19, melalui siaran persnya, Jumat (9/4).

Nirwan menekankan konsolidasi ini sangat perlu dilakukan 23 organisasi profesi tenaga kesehatan berdasarkan PP No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan dan 33 organisasi profesi yang tergabung dalam Forum Organisasi Profesi Kesehatan Indonesia (FOPKI).

"Terima kasih kepada Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) yang bisa membantu komunikasi dengan berbagai organisasi profesi dalam acara ini. Jangan sampai ada gesekan yang tidak penting, masing-masing organisasi harus punya visi yang sama. Meski sumber daya berbeda, tapi punya potensi untuk bersama-sama menjadi kekuatan dibawah komanda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)," papar Nirwan.

Sementara, Ketua Cabang PDEI Jawa Tengah yang juga Dokter Bedah di RSUP Surakarta, Dr Arif Budi Satria Sp.B dalam materinya yang berjudul RS Lapangan, Transportasi Pasien Airbone Diseases, BTCLS untuk Pasien Covid-19 memaparkan pengalamannya saat terlibat dalam pembangunan dan pengoperasian RS Lapangan Solo di Benteng Vastenburg.

"RS lapangan itu didirikan modular, sehingga cepat didirikan. Di Solo diputuskan untuk mendirikan RS lapangan karena saat itu rumah-rumah sakit sudah penuh. Solo pun selalu merah, sesekali saja oranye dan hingga kini masih beroperasi. RS lapangan ini juga baik bagi penanganan pasien karena sirkulasi udara dan temperaturnya," tutur Arif.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!