Penggemar K-pop Minta E-Commerce Terbesar Indonesia Pakai 100% Energi Terbarukan pada 2030
Rabu, 21 April 2021 - 16:05 WIB
Baca Juga: 5 Pesan BTS untuk Para Perempuan Muda di Seluruh Dunia
Diperkirakan, jejak emisi karbon Tokopedia telah meningkat secara signifikan seiring dengan pertumbuhannya yang pesat dalam lima tahun terakhir. Untuk mendukung operasinya, Tokopedia menyewa pusat data di seluruh negeri.
Nah, konsumsi listrik untuk pusat data tersebut menghasilkan emisi karbon yang sangat tinggi. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019, energi di Indonesia masih didominasi energi fosil yang bauran energinya terdiri dari 65.5% batu bara, 19.3% gas, 3,5% minyak, dan 11,7% EBT (energi baru terbarukan).
Namun data konsumsi negeri dan jejak karbon tidak pernah diungkap. Karenanya, para penggemar K-pop kini menyuarakan keprihatinan mereka tentang dampak lingkungan perusahaan.
Foto: Twitter@flowercrownvk
“Tokopedia berhasil mengembangkan bisnisnya dengan menggandeng bintang K-pop. Oleh karena itu, kami berharap ini juga akan bertindak seperti idola kami dan memengaruhi perubahan positif di dunia dengan menggunakan energi terbarukan,” kata Nurul Sarifah dari Kpop4Planet.
Di berbagai dunia, rencana dekarbonisasi sudah dijanjikan oleh perusahaan teknologi global seperti Amazon, Google, Netflix, dan Apple, serta rekan Tokopedia dan perusahaan merger potensial yaitu Gojek. Netflix dan Amazon, misalnya, berjanji mencapai target nol emisi masing-masing pada 2022 dan 2040. Sementara platform Naver yang menjalankan V Live berjanji untukmenjadi "2040 Carbon Negative".
Tentang Pusat Data
Indonesia tercatat memiliki tingkat penggunaan e-commerce tertinggi di dunia, dengan 80%-90% dari 158 juta pengguna internet berbelanja di Tokopedia. Hal ini yang juga menjadi alasan para penggemar K-pop merasa bahwa Tokopedia harus memimpin dengan memberi contoh dan membuat perubahan positif untuk bisa mendapatkan listrik dari sumber terbarukan.
Diperkirakan, jejak emisi karbon Tokopedia telah meningkat secara signifikan seiring dengan pertumbuhannya yang pesat dalam lima tahun terakhir. Untuk mendukung operasinya, Tokopedia menyewa pusat data di seluruh negeri.
Nah, konsumsi listrik untuk pusat data tersebut menghasilkan emisi karbon yang sangat tinggi. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019, energi di Indonesia masih didominasi energi fosil yang bauran energinya terdiri dari 65.5% batu bara, 19.3% gas, 3,5% minyak, dan 11,7% EBT (energi baru terbarukan).
Namun data konsumsi negeri dan jejak karbon tidak pernah diungkap. Karenanya, para penggemar K-pop kini menyuarakan keprihatinan mereka tentang dampak lingkungan perusahaan.
Foto: Twitter@flowercrownvk
“Tokopedia berhasil mengembangkan bisnisnya dengan menggandeng bintang K-pop. Oleh karena itu, kami berharap ini juga akan bertindak seperti idola kami dan memengaruhi perubahan positif di dunia dengan menggunakan energi terbarukan,” kata Nurul Sarifah dari Kpop4Planet.
Di berbagai dunia, rencana dekarbonisasi sudah dijanjikan oleh perusahaan teknologi global seperti Amazon, Google, Netflix, dan Apple, serta rekan Tokopedia dan perusahaan merger potensial yaitu Gojek. Netflix dan Amazon, misalnya, berjanji mencapai target nol emisi masing-masing pada 2022 dan 2040. Sementara platform Naver yang menjalankan V Live berjanji untukmenjadi "2040 Carbon Negative".
Tentang Pusat Data
Indonesia tercatat memiliki tingkat penggunaan e-commerce tertinggi di dunia, dengan 80%-90% dari 158 juta pengguna internet berbelanja di Tokopedia. Hal ini yang juga menjadi alasan para penggemar K-pop merasa bahwa Tokopedia harus memimpin dengan memberi contoh dan membuat perubahan positif untuk bisa mendapatkan listrik dari sumber terbarukan.
Lihat Juga :