Mengenal Carceral Feminism, saat Korban Kekerasan malah Jadi Tersangka

Rabu, 02 Juni 2021 - 18:38 WIB
Elizabeth menggambarkan carceral feminisme sebagai kegagalan untuk mengatasi kondisi ekonomi yang menjadi akar dari kekerasan gender. "Neoliberalisme telah membentuk perubahan "carceral" dalam gerakan advokasi feminis yang sebelumnya diselenggarakan untuk memperjuangkan keadilan," tulisnya.

Baca Juga: 9 Istilah dalam Feminisme yang Perlu Kamu Tahu

ALASAN GERAKAN INI BANYAK DITENTANG



Foto: Getty Images

Seperti kasus di atas, dapat dilihat bahwa terkadang hukum yang dibuat negara tidak bisa melindungi korban dan keluarga. Justru korban yang mendapatkan hukuman, sementara pelaku masih bebas berkeliaran.

Selain itu, negara juga digadang-gadang melakukan pelecehan dan kontrol secara paksa terhadap perempuan atau kaum minoritas yang berstatus sebagai korban. Apabila korban dipenjara dan tidak mendapatkan perlakuan yang sesuai, tentu akan timbul trauma berkepanjangan atas perbuatan yang ia terima.

Penyelesaian kasus dengan menggunakan carceral feminismjuga dikatakan sangat berpusat pada pola pikir orang kulit putih (white-people centrist). Bagi orang kulit berwarna, terkadang putusan pengadilan dapat merugikan mereka apabila berstatus sebagai korban.

TINDAK KEKERASAN LEBIH RENTAN DILAKUKAN OLEH POLISI



Foto: Getty Images

Melansir dari Vox , studi telah menemukan bahwa sekitar 40% keluarga dari polisi justru mengalami kekerasan dalam rumah tangga, lebih tinggi daripada 10% keluarga dalam populasi umum. Selain itu, ditemukan tindakan dari petugas polisi yang justru melakukan pemerkosaan dan penyerangan seksual terhadap orang-orang yang mereka tangkap.

SAINGAN GERAKAN INI ADALAH ABOLITION FEMINISM
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!