Pengobatan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Hidup Penyandang Talasemia
Rabu, 02 Juni 2021 - 21:21 WIB
Di Indonesia, lanjut dr. Bambang, diperkirakan frekuensi pembawa sifat alfa talasemia mencapai 2.6%-11%, beta talasemia 3%-10%, serta varian laintalasemia HbE mencapai 1.6%-33% dari total populasi yang mencapai 256 juta jiwa.
Setiap tahun diperkirakan akan lahir 2.500 bayi dengan talasemia major. Saat ini pengobatan talasemia dapat dilakukan dengan transfusi darah merah. Pemberian transfusi darah diberikan pada anak dengan kadar hemoglobin kurang dari 7 gr/dL pada awal diagnosis, dan harus rutin dilakukan dengan rentang waktu 2-4 minggu.
“Pada umumnya setelah 20 kali transfusi darah, anak akan mengalami kelebihan zat besi. Zat besi yang berlebih ini akan tertimbun di organ-organ penting tubuh di antaranya otak, pankreas, jantung, hati, ginjal, serta organ penting lain yang dapat mengakibatkan gagal jantung, sirosis hepatis, diabetes melitus, kelainan ginjal, dan kematian. Oleh karena itu kelebihan zat besi ini harus dikeluarkan dari tubuh dengan memberikan pengobatan kelasi besi," terang dr. Bambang.
Kepatuhan penyandang talasemia dalam mengonsumsi obat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan kelasi besi ini. Di samping itu, penyandang thalassemia juga dianjurkan untuk mengonsumsi sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung nutrient serta vitamin (asam folat, vitamin E, vitamin C).
Pada akhirnya kepatuhan terhadap pengobatan, dukungan keluarga (caregiver), akses terhadap layanan kesehatan, serta edukasi yang terus-menerus memainkan peranan penting bagi pasien untuk dapat hidup berdamai dengan penyakittalasemia. Penyandang talasemia memerlukan perawatan sejak dini dan terapi secara rutin agar memiliki kehidupan yang berkualitas.
Setiap tahun diperkirakan akan lahir 2.500 bayi dengan talasemia major. Saat ini pengobatan talasemia dapat dilakukan dengan transfusi darah merah. Pemberian transfusi darah diberikan pada anak dengan kadar hemoglobin kurang dari 7 gr/dL pada awal diagnosis, dan harus rutin dilakukan dengan rentang waktu 2-4 minggu.
“Pada umumnya setelah 20 kali transfusi darah, anak akan mengalami kelebihan zat besi. Zat besi yang berlebih ini akan tertimbun di organ-organ penting tubuh di antaranya otak, pankreas, jantung, hati, ginjal, serta organ penting lain yang dapat mengakibatkan gagal jantung, sirosis hepatis, diabetes melitus, kelainan ginjal, dan kematian. Oleh karena itu kelebihan zat besi ini harus dikeluarkan dari tubuh dengan memberikan pengobatan kelasi besi," terang dr. Bambang.
Kepatuhan penyandang talasemia dalam mengonsumsi obat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan kelasi besi ini. Di samping itu, penyandang thalassemia juga dianjurkan untuk mengonsumsi sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung nutrient serta vitamin (asam folat, vitamin E, vitamin C).
Pada akhirnya kepatuhan terhadap pengobatan, dukungan keluarga (caregiver), akses terhadap layanan kesehatan, serta edukasi yang terus-menerus memainkan peranan penting bagi pasien untuk dapat hidup berdamai dengan penyakittalasemia. Penyandang talasemia memerlukan perawatan sejak dini dan terapi secara rutin agar memiliki kehidupan yang berkualitas.
Lihat Juga :