DARVO: Cara Pelaku Kekerasan Seksual Membungkam Korban
Kamis, 17 Juni 2021 - 16:16 WIB
Foto:Getty Images
Melansir dari SBS , istilah DARVO pada awalnya dikonsepkan oleh Jennifer J. Freyd. Ia mempublikasikan artikelnya pada 1997 tentang teori trauma pengkhianatan.
Dalam artikelnya tertulis bahwa DARVO mengacu pada reaksi para pelaku kejahatan saat telah melakukan kesalahan, khususnya pelaku kekerasan seksual. Oleh karena itu, dapat dikatakan DARVO digunakan pelaku untuk melindungi diri dan tidak mau mengakui kesalahan.
Jennifer juga menjelaskan bahwa melalui teknik ini pelaku bisa menyangkal pernyataan korban perilakunya, menyerang individu yang memberikan kesaksian, dan membalikkan peran antara pelaku dan korban. Dengan taktik terakhir, pelaku seolah-olah akan berperan sebagai "korban".
SAYANGNYA, STRATEGI DARVO EFEKTIF
Foto: Shutterstock
Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2017, Jennifer dan timnya juga menunjukkan bahwa korban yang terkena DARVO lebih cenderung merasa menyalahkan diri sendiri pada akhir wawancara. Penelitiannya pada 2020 juga menunjukkan bahwa orang-orang yang disajikan dengan laporan pelecehan diikuti oleh aksi DARVO, cenderung tidak mempercayai korban.
Melansir dari SBS, terdapat gagasan tentang himpati, yaitu istilah yang diciptakan oleh Filsuf Kate Manne dalam bukunya "Down Girl: The Logic of Misogyny". Himpati adalah simpati yang berlebihan kepada pelaku kekerasan seksual. Apabila dilakukan, pelaku akan semakin dilindungi keberadaannya dan korban terus diserang.
CARA UNTUK MELAWAN DARVO
Melansir dari SBS , istilah DARVO pada awalnya dikonsepkan oleh Jennifer J. Freyd. Ia mempublikasikan artikelnya pada 1997 tentang teori trauma pengkhianatan.
Dalam artikelnya tertulis bahwa DARVO mengacu pada reaksi para pelaku kejahatan saat telah melakukan kesalahan, khususnya pelaku kekerasan seksual. Oleh karena itu, dapat dikatakan DARVO digunakan pelaku untuk melindungi diri dan tidak mau mengakui kesalahan.
Jennifer juga menjelaskan bahwa melalui teknik ini pelaku bisa menyangkal pernyataan korban perilakunya, menyerang individu yang memberikan kesaksian, dan membalikkan peran antara pelaku dan korban. Dengan taktik terakhir, pelaku seolah-olah akan berperan sebagai "korban".
SAYANGNYA, STRATEGI DARVO EFEKTIF
Foto: Shutterstock
Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2017, Jennifer dan timnya juga menunjukkan bahwa korban yang terkena DARVO lebih cenderung merasa menyalahkan diri sendiri pada akhir wawancara. Penelitiannya pada 2020 juga menunjukkan bahwa orang-orang yang disajikan dengan laporan pelecehan diikuti oleh aksi DARVO, cenderung tidak mempercayai korban.
Melansir dari SBS, terdapat gagasan tentang himpati, yaitu istilah yang diciptakan oleh Filsuf Kate Manne dalam bukunya "Down Girl: The Logic of Misogyny". Himpati adalah simpati yang berlebihan kepada pelaku kekerasan seksual. Apabila dilakukan, pelaku akan semakin dilindungi keberadaannya dan korban terus diserang.
CARA UNTUK MELAWAN DARVO
Lihat Juga :