Harus Tahu, Ini Putus Cinta Dilihat dari Teori Konflik dan Sosiologi

Rabu, 18 Agustus 2021 - 21:50 WIB
Foto: Shutterstock

Ketika ketidakcocokan tidak dapat dikendalikan, ketika itu pulalah apa pun yang dilakukan akan terasa salah karena tidak adanya lagi rasa simpati. Saat rasa simpati hilang, maka akan muncul konflik-konflik kecil yang semakin lama semakin menggunung.

Baca Juga: Daripada Selingkuh atau Ghosting, Ini 8 Langkah Putusin Pacar dengan Cara Baik-Baik

Sementara putus cinta berdasarkan teori konflik adalah kondisi saat ada ketegangan rasa yang disebabkan adanya perbedaan nilai di antara kedua belah pihak. Selain itu persaingan dan ketidakmampuan menerima perubahan dalam sebuah hubungan sering kali menjadi pemicu konflik.

Mengutip dari buku "Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda" karya George Ritzer (terjemahan PT Raja Grafindo Persada, 2018), ini sejalan dengan pendapat dari tokoh utama teori konflik, Ralp Dahrendorf, yang menyebutkan pertentangan yang terjadi secara terus-menerus akan mengantarkan kepada sebuah perubahan.

Nah, akan ada masa saat dalam menjalani suatu hubungan akan terjadi konflik yang mengakibatkan perdebatan dan persaingan tentang siapa yang paling benar. Saat kita merasakan tanda-tanda itu, lebih baik kita alihkan kepada hal lain atau ambil sedikit waktu hingga kepala dingin, baru bicarakan kembali.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!