Sampah di Pura Besakih Hampir Satu Ton, Mahasiswa IPB 'Sulap' jadi Produk Menguntungkan
Senin, 30 Agustus 2021 - 20:10 WIB
Pura Besakih setiap harinya menampung sekitar satu juta ton sampah organik dari persembahyangan. Foto/Dok. Sindonews
DENPASAR - Sampah sisa persembahyangan di Pura Besakih, pura terbesar di Bali, diperkirakan mencapai satu ton per hari. Sampah ini lantas berusaha diolah oleh para mahasiswa IPB agar bernilai ekonomi.
Saat persembahyangan, umat Hindu memerlukan sarana dan prasarana yang salah satunya adalah canang. Canang terdiri dari beberapa bahan yang merupakan bahan organik, seperti daun kelapa, berbagai macam bunga, daun pandan, dan lainnya.
Masyarakat desa setempat kerap bingung dalam pengelolaan sampah organik tersebut. Sementara pemerintah cenderung fokus pada pengolahan sampah plastik. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan menumpuknya sampah organik di Desa Besakih.
Permasalahan ini lantas menjadi perhatian tiga mahasiswa IPB yang sedang melakukan pengabdian masyarakat melalui kompetisi PIMNAS Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Mereka yaitu I Dewa Gede Wicaksana Prabaswara, Rafid Rizqullah, dan Gde Bayu Pangestu Aw menjalankan program BESAclean dengan mengajak Karang Taruna Giri Kusuma di Besakih sebagai mitra untuk program pengabdian masyarakat yang mereka lakukan.
Foto: Ni Ketut Chandra Puspita
Program yang dijalankan adalah pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos (padat dan cair) dan minyak atsiri yang nantinya dapat dijual oleh masyarakat untuk meningkatkan perekonomian mereka.
Program ini dilakukan dengan dua cara, yaitu pelatihan secara tatap muka langsung dan daring. Pelatihan daring dilakukan untuk memberikan dasar-dasar pembuatan pupuk dan minyak atsiri. Sementara pelatihan langsung dilakukan untuk mempraktikkan pelatihan yang sudah dilakukan.
Saat persembahyangan, umat Hindu memerlukan sarana dan prasarana yang salah satunya adalah canang. Canang terdiri dari beberapa bahan yang merupakan bahan organik, seperti daun kelapa, berbagai macam bunga, daun pandan, dan lainnya.
Masyarakat desa setempat kerap bingung dalam pengelolaan sampah organik tersebut. Sementara pemerintah cenderung fokus pada pengolahan sampah plastik. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan menumpuknya sampah organik di Desa Besakih.
Permasalahan ini lantas menjadi perhatian tiga mahasiswa IPB yang sedang melakukan pengabdian masyarakat melalui kompetisi PIMNAS Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Mereka yaitu I Dewa Gede Wicaksana Prabaswara, Rafid Rizqullah, dan Gde Bayu Pangestu Aw menjalankan program BESAclean dengan mengajak Karang Taruna Giri Kusuma di Besakih sebagai mitra untuk program pengabdian masyarakat yang mereka lakukan.
Foto: Ni Ketut Chandra Puspita
Program yang dijalankan adalah pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos (padat dan cair) dan minyak atsiri yang nantinya dapat dijual oleh masyarakat untuk meningkatkan perekonomian mereka.
Program ini dilakukan dengan dua cara, yaitu pelatihan secara tatap muka langsung dan daring. Pelatihan daring dilakukan untuk memberikan dasar-dasar pembuatan pupuk dan minyak atsiri. Sementara pelatihan langsung dilakukan untuk mempraktikkan pelatihan yang sudah dilakukan.
Lihat Juga :