Film Pendek Hari ke-40, Mahasiswa Demonstran dan Kebaikan yang Diwariskan
Jum'at, 03 September 2021 - 17:00 WIB
Bagaimana penonton bisa menghimpun informasi ini dari film yang durasinya tidak lebih dari 25 menit, adalah berkat divisi artistik. Penempatan foto kedua aktivis tersebut di kamar Ilham, menjawab jejalan pertanyaan penonton atas opsi bernyali tokoh ini.
Baca Juga: Makin Mencekam, Drama Korea 'Squid Game' Ternyata Cerita tentang Kapitalisme
Selain inspirasi yang membuat tokoh Ilham mengambil keputusan berani, ada pula dorongan yang sifatnya lebih mendasar, lebih dalam dan intuitif. Motivasi ini lahir dari kebaikan-kebaikan yang diajarkan orang tua Ilham. Sifat peduli Ilham pada keadaan sekitarnya, merupakan kebaikan yang diwariskan dari kedua orang tuanya. Bapak yang punya karakter mengayomi dan meladeni, serta Ibu yang sabar, mengenalkan dan menerapkan kebaikan dalam kehidupan Ilham. Bahkan untuk hal kecil dan sekilas tampak remeh, seperti tidak boleh minum langsung dari mulut botol.
Warisan kebaikan dalam diri Ilham, selain direfleksikan dari caranya menentang arus mengawal perubahan, juga terlihat dari kematangannya dalam menyikapi kehilangan. Ia memilih untuk merelakan, dan berdamai dengan pedihnya kehilangan. Ilham melanjutkan hidup dan meneruskan pola yang sudah tertanam di alam bawah sadarnya. Pola tentang keteraturan, kedisiplinan, dan kepasrahan pada kuasa mahabesar yang mengatur seluruh sendi kehidupan, sebagaimana yang diajarkan kepadanya.
Secara keseluruhan, "Hari ke-40" yang tayang di Maxstream ini tidak seangker judulnya. Film ini adalah perangkat untuk menguji hipotesis antara hubungan internalisasi nilai-nilai moral dan pengejawantahannya dalam diri seseorang. Bahwa sekalipun kesedihan dan kekerasan menimpa Ilham, kebajikan yang menempanya seumur hidup, berhasil menyelamatkannya dari kekacaubalauan.
Lusiana Yuniarti
Penikmat film dari komunitas KamAksara.
Baca Juga: Makin Mencekam, Drama Korea 'Squid Game' Ternyata Cerita tentang Kapitalisme
Selain inspirasi yang membuat tokoh Ilham mengambil keputusan berani, ada pula dorongan yang sifatnya lebih mendasar, lebih dalam dan intuitif. Motivasi ini lahir dari kebaikan-kebaikan yang diajarkan orang tua Ilham. Sifat peduli Ilham pada keadaan sekitarnya, merupakan kebaikan yang diwariskan dari kedua orang tuanya. Bapak yang punya karakter mengayomi dan meladeni, serta Ibu yang sabar, mengenalkan dan menerapkan kebaikan dalam kehidupan Ilham. Bahkan untuk hal kecil dan sekilas tampak remeh, seperti tidak boleh minum langsung dari mulut botol.
Warisan kebaikan dalam diri Ilham, selain direfleksikan dari caranya menentang arus mengawal perubahan, juga terlihat dari kematangannya dalam menyikapi kehilangan. Ia memilih untuk merelakan, dan berdamai dengan pedihnya kehilangan. Ilham melanjutkan hidup dan meneruskan pola yang sudah tertanam di alam bawah sadarnya. Pola tentang keteraturan, kedisiplinan, dan kepasrahan pada kuasa mahabesar yang mengatur seluruh sendi kehidupan, sebagaimana yang diajarkan kepadanya.
Secara keseluruhan, "Hari ke-40" yang tayang di Maxstream ini tidak seangker judulnya. Film ini adalah perangkat untuk menguji hipotesis antara hubungan internalisasi nilai-nilai moral dan pengejawantahannya dalam diri seseorang. Bahwa sekalipun kesedihan dan kekerasan menimpa Ilham, kebajikan yang menempanya seumur hidup, berhasil menyelamatkannya dari kekacaubalauan.
Lusiana Yuniarti
Penikmat film dari komunitas KamAksara.
(ita)
Lihat Juga :