3 Alasan Mengapa Takemichi di Tokyo Revengers Tak Bisa Diremehkan
Senin, 17 Januari 2022 - 20:55 WIB
Sepanjang Tokyo Revengers, sampai arc akhirnya di manga, Takemichi selalu dipukuli. Dari semua anggota geng di Tokyo Manji alias Toman, dia adalah yang terlemah. Dia tidak pernah keluar dari pertarungan tanpa tergores.
Takemichi menyadarinya. Kenyataan ini juga membuatnya frustrasi karena dia terus menemukan dirinya terluka parah. Ini jadi memburuk ketika dia masuk dunia di mana pertarungan sering kali dimenangkan hanya dengan kekuatan fisik.
Beruntung, pemimpin Toman, Mikey, tidak pernah menyalahkannya karena tidak menjadi orang terkuat. Nyatanya, Mikey menghormati itu dan mewakili visinya bagi era baru para berandalan. Kekuatan tidak berputar pada fisik di Tokyo Revengers. Kekuatan itu berbasis di sekitar karakter dan moral.
Cara lain yang dilakukan Takemichi untuk memecah mindset maskulinitas toxic adalah bagaimana dia tidak takut memperlihatkan emosinya. Orang-orang mengolok-oloknya karena menangis. Bahkan, Akkun menjulukinya sebagai Pahlawan Cengeng. Ini memperlihatkan, meski dia menangis, ini tidak membuatnya kurang berani atau kurang menjadi jagoan.
Dibandingkan dengan Mikey yang dianggap sebagai orang terkuat di Toman, Takemichi harus menyembunyikan ketakutannya ketika Draken terluka. Ini karena dia harus menjunjung citra Mikey yang Tak Terkalahkan. Bagi Takemichi, menunjukkan emosi yang sebenarnya membutuhkan keberanian yang luar biasa.
2. Ketahanan mental Takemichi tiada tandingannya
Motivasi utama Takemichi di Tokyo Revengers adalah menyelamatkan mantan pacarnya, Hina. Setelah tahu kalau dia tewas akibat ulah Toman, Takemichi berusaha kembali ke masa lalu untuk mencari akar penyebab perubahan geng itu dan menghentikannya untuk mencegah kematian Hina. Sejauh ini, dia beberapa kali berhasil.
Yang pertama dia lihat adalah sebuah masa depan di mana Akkun, kini pengikut Kisaki, bunuh diri karena ketakutan pada Kisaki. Yang kedua, Takemichi mengira dia sukses setelah menyelamatkan nyawa Draken. Tapi, dia harus melihat Akkun dan Hina tewas lagi.
Takemichi menyadarinya. Kenyataan ini juga membuatnya frustrasi karena dia terus menemukan dirinya terluka parah. Ini jadi memburuk ketika dia masuk dunia di mana pertarungan sering kali dimenangkan hanya dengan kekuatan fisik.
Beruntung, pemimpin Toman, Mikey, tidak pernah menyalahkannya karena tidak menjadi orang terkuat. Nyatanya, Mikey menghormati itu dan mewakili visinya bagi era baru para berandalan. Kekuatan tidak berputar pada fisik di Tokyo Revengers. Kekuatan itu berbasis di sekitar karakter dan moral.
Cara lain yang dilakukan Takemichi untuk memecah mindset maskulinitas toxic adalah bagaimana dia tidak takut memperlihatkan emosinya. Orang-orang mengolok-oloknya karena menangis. Bahkan, Akkun menjulukinya sebagai Pahlawan Cengeng. Ini memperlihatkan, meski dia menangis, ini tidak membuatnya kurang berani atau kurang menjadi jagoan.
Dibandingkan dengan Mikey yang dianggap sebagai orang terkuat di Toman, Takemichi harus menyembunyikan ketakutannya ketika Draken terluka. Ini karena dia harus menjunjung citra Mikey yang Tak Terkalahkan. Bagi Takemichi, menunjukkan emosi yang sebenarnya membutuhkan keberanian yang luar biasa.
2. Ketahanan mental Takemichi tiada tandingannya
Motivasi utama Takemichi di Tokyo Revengers adalah menyelamatkan mantan pacarnya, Hina. Setelah tahu kalau dia tewas akibat ulah Toman, Takemichi berusaha kembali ke masa lalu untuk mencari akar penyebab perubahan geng itu dan menghentikannya untuk mencegah kematian Hina. Sejauh ini, dia beberapa kali berhasil.
Yang pertama dia lihat adalah sebuah masa depan di mana Akkun, kini pengikut Kisaki, bunuh diri karena ketakutan pada Kisaki. Yang kedua, Takemichi mengira dia sukses setelah menyelamatkan nyawa Draken. Tapi, dia harus melihat Akkun dan Hina tewas lagi.
Lihat Juga :