Jadi Kolektor Barang Antik, Teman Boleh Pinjam tapi Tak Boleh Beli

Sabtu, 14 Mei 2022 - 07:30 WIB
Vespa 98 dirilis pada 1946 dan menjadi Vespa scooter pertama yang diluncurkan. Foto/Vespa
JAKARTA - Barang antik apalagi yang memiliki nilai sejarah tinggi banyak diburu para kolektor. Ada yang membelinya hanya untuk disimpan, ada juga yang berniat menjualnya kembali.

Selain nilai sejarahnya, nilai investasi barang antik juga menggiurkan. Misalnya saja vas dari Dinasti Qing Pinner, China, berhasil terjual hingga USD80,2 juta atau setara dengan Rp1,152 triliun dalam suatu lelang di Inggris pada 2010.



Adapun jam saku Patek Philippe Supercomplication berhasil terjual senilai USD24 juta (Rp348 miliar). Jam saku yang dibuat pada 1932 sudah sangat langka, jadi tak heran jika nilainya sangat fantastis.



Foto: Getty Images

Di Indonesia, kolektor barang antik juga bertebaran. Beberapa mengaku mulai menjadi kolektor karena mengikuti kebiasaan keluarga. Misalnya saja Adrian. Ia mengaku mulai menyukai barang antik karena pemberian dari kakeknya. “Seperti motor Vespa, dan mesin tik,” ujar pria yang biasa disapa Ian itu.

Berbeda dari Ian, Meitin, kolektor sekaligus pemilik toko barang antik di Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa ia ketularan suaminya menjadi pengumpul barang antik. “Saya jadi ikut meneruskan saja,” ucapnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!