CERMIN: Harta, Tangga dan Cinta
Rabu, 15 Juni 2022 - 11:52 WIB
Serial dokumenter The Staircase menceritakan kasus Michael Peterson yang dituduh membunuh istrinya. Foto/Netflix
JAKARTA - Tahun 2011. Saya sedang mempersiapkan syuting film bioskop kedua saya yang akan berlokasi di Jepang. Dan Michael Peterson dituduh membunuh istrinya, Kathleen, dengan keji.
Tapi Michael Peterson bukan Abe Sada. Ia tak dituduh mencekik leher kekasihnya menggunakan tali kimono merahnya hingga terkapar tewas. Ia tak gelap mata karena cemburu melihat kekasihnya selalu kembali ke keluarganya setelah bercinta panas dengannya. Dan ia tak pernah dengan keji memotong penis manajer restoran itu.
"Setelah dia mati, aku sangat lega. Seolah-olah bebanku terangkat semua. Aku membawa organ intimnya karena itu adalah kenanganku dengannya. Itu yang aku miliki dari Ishida.”
Kedua peristiwa yang terentang selama 75 tahun itu punya satu kesamaan: didokumentasikan dalam bentuk film . Kisah Abe diolah sutradara Oshima Nagashi menjadi film sensasional pada 1976 berjudul In the Realm of the Senses,dan kisah Michael direkam oleh Jean-Xavier de Lestrade dalam dokumenter yang dirilis pada 2014, berdurasi 6 jam berjudul The Staircase.
Foto: HBO Go
Michael Peterson bukan Abe Sada. Ia tak pernah mengaku melakukan pembunuhan pada istrinya yang amat dicintainya itu. Sementara Abe yang ditemukan dua hari pascapembunuhan di sebuah pondok sewaan di kota Shinagawa, Jepang, menyerah begitu saja dan tak melakukan perlawanan.
"Aku mencintainya. Aku tidak pernah mencintai seorang pria lebih dari ini sebelumnya. Aku ingin memilikinya untukku sendiri dan saat aku sadar dia tak akan jadi milikku, aku ingin membunuhnya."
Lagi-lagi soal cinta. Abe membunuh Ishida karena terlalu mencintainya. Juga Michael yang dituduh membunuh Kathleen meski selalu mengutarakan betapa ia mencintai istrinya itu. Cinta memang [mungkin] tak pernah sederhana. Membuat saya teringat kutipan dialog dari novel Cantik Itu Luka –nya Eka Kurniawan.
“Cinta telah memberikan bukti bahwa cinta merupakan kekuatan yang jauh lebih besar dari apa pun”. Cinta datang seringkali dengan cara paling sederhana, tapi juga seringkali menggulung seperti badai. Cinta Michael kepada Kathleen justru membuatnya harus merelakan delapan tahun hidupnya terempas di penjara.
Tapi Michael Peterson bukan Abe Sada. Ia tak dituduh mencekik leher kekasihnya menggunakan tali kimono merahnya hingga terkapar tewas. Ia tak gelap mata karena cemburu melihat kekasihnya selalu kembali ke keluarganya setelah bercinta panas dengannya. Dan ia tak pernah dengan keji memotong penis manajer restoran itu.
"Setelah dia mati, aku sangat lega. Seolah-olah bebanku terangkat semua. Aku membawa organ intimnya karena itu adalah kenanganku dengannya. Itu yang aku miliki dari Ishida.”
Kedua peristiwa yang terentang selama 75 tahun itu punya satu kesamaan: didokumentasikan dalam bentuk film . Kisah Abe diolah sutradara Oshima Nagashi menjadi film sensasional pada 1976 berjudul In the Realm of the Senses,dan kisah Michael direkam oleh Jean-Xavier de Lestrade dalam dokumenter yang dirilis pada 2014, berdurasi 6 jam berjudul The Staircase.
Foto: HBO Go
Michael Peterson bukan Abe Sada. Ia tak pernah mengaku melakukan pembunuhan pada istrinya yang amat dicintainya itu. Sementara Abe yang ditemukan dua hari pascapembunuhan di sebuah pondok sewaan di kota Shinagawa, Jepang, menyerah begitu saja dan tak melakukan perlawanan.
"Aku mencintainya. Aku tidak pernah mencintai seorang pria lebih dari ini sebelumnya. Aku ingin memilikinya untukku sendiri dan saat aku sadar dia tak akan jadi milikku, aku ingin membunuhnya."
Lagi-lagi soal cinta. Abe membunuh Ishida karena terlalu mencintainya. Juga Michael yang dituduh membunuh Kathleen meski selalu mengutarakan betapa ia mencintai istrinya itu. Cinta memang [mungkin] tak pernah sederhana. Membuat saya teringat kutipan dialog dari novel Cantik Itu Luka –nya Eka Kurniawan.
“Cinta telah memberikan bukti bahwa cinta merupakan kekuatan yang jauh lebih besar dari apa pun”. Cinta datang seringkali dengan cara paling sederhana, tapi juga seringkali menggulung seperti badai. Cinta Michael kepada Kathleen justru membuatnya harus merelakan delapan tahun hidupnya terempas di penjara.
Lihat Juga :