CERMIN: Yuni di Bulan Juni
Sabtu, 18 Juni 2022 - 05:58 WIB
Foto: Disney+ Hotstar
Yuni melihat perempuan selayaknya juga punya pilihan, meskipun pahit seperti yang dialami Suci. Tapi tetap saja itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu punya kalkulasinya masing-masing.
Hidup bukanlah matematika. Hidup tak punya jalan yang eksak. Ia senantiasa berliku, kadang berbelok tajam, bahkan harus jatuh ke jurang yang dalam. Pertanyaannya adalah beranikah kita menyalakan sumbu dalam diri kita untuk mengarungi hidup yang tak pasti itu?
Saya belum pernah mengenal langsung seseorang seperti Yuni. Mungkin karena saya tak pernah mengalami hidup sebagaimana yang dialami Yuni-Yuni lainnya di seluruh dunia. Pada jaman ketika kecerdasan buatan sudah menggantikan manusia, masih ada Yuni di Serang atau di Polewali atau di belahan lain negeri ini.
Mereka yang harus melawan patriarki dalam diam, dengan pelan. Bukan dengan berkoar-koar di media sosial atau membuat tulisan panjang di blog. Mereka yang harus berhadapan langsung dengan sebuah kondisi masyarakat yang terus terpelihara. Mereka yang berani mengambil pilihan berbeda di tengah stigma.
Foto: Disney+ Hotstar
Anomali. Stigma. Yuni mungkin tak tahu apa makna dari dua kata itu. Tapi ia adalah keduanya. Dan ia melakukannya bukan dengan cara heroik. Ia hanya tahu bahwa sebagai perempuan, ia juga punya hak. Ia mungkin berbeda tapi ia setara.
Baca Juga: 5 Drama Korea Romantis untuk Kamu yang Antiromantic
Saya membayangkan Yuni berjalan ke arah laut. Terus berjalan ke tengah. Menenggelamkan dirinya sejenak. Hilang sejenak dari hidup. Karena hidup bukan matematika, maka Yuni tak bisa menghitung peluang atas pilihan-pilihan yang akan diambilnya. Selain terkubur dalam rumah atau tenggelam di laut, pilihan-pilihan apalagi yang dimilikinya?
“dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
Yuni melihat perempuan selayaknya juga punya pilihan, meskipun pahit seperti yang dialami Suci. Tapi tetap saja itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan selalu punya kalkulasinya masing-masing.
Hidup bukanlah matematika. Hidup tak punya jalan yang eksak. Ia senantiasa berliku, kadang berbelok tajam, bahkan harus jatuh ke jurang yang dalam. Pertanyaannya adalah beranikah kita menyalakan sumbu dalam diri kita untuk mengarungi hidup yang tak pasti itu?
Saya belum pernah mengenal langsung seseorang seperti Yuni. Mungkin karena saya tak pernah mengalami hidup sebagaimana yang dialami Yuni-Yuni lainnya di seluruh dunia. Pada jaman ketika kecerdasan buatan sudah menggantikan manusia, masih ada Yuni di Serang atau di Polewali atau di belahan lain negeri ini.
Mereka yang harus melawan patriarki dalam diam, dengan pelan. Bukan dengan berkoar-koar di media sosial atau membuat tulisan panjang di blog. Mereka yang harus berhadapan langsung dengan sebuah kondisi masyarakat yang terus terpelihara. Mereka yang berani mengambil pilihan berbeda di tengah stigma.
Foto: Disney+ Hotstar
Anomali. Stigma. Yuni mungkin tak tahu apa makna dari dua kata itu. Tapi ia adalah keduanya. Dan ia melakukannya bukan dengan cara heroik. Ia hanya tahu bahwa sebagai perempuan, ia juga punya hak. Ia mungkin berbeda tapi ia setara.
Baca Juga: 5 Drama Korea Romantis untuk Kamu yang Antiromantic
Saya membayangkan Yuni berjalan ke arah laut. Terus berjalan ke tengah. Menenggelamkan dirinya sejenak. Hilang sejenak dari hidup. Karena hidup bukan matematika, maka Yuni tak bisa menghitung peluang atas pilihan-pilihan yang akan diambilnya. Selain terkubur dalam rumah atau tenggelam di laut, pilihan-pilihan apalagi yang dimilikinya?
“dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
Lihat Juga :