Review Film Elvis: Kisah Legenda untuk Penonton Muda

Rabu, 22 Juni 2022 - 20:39 WIB
Elvis memang fokus pada kisah sang legenda, tapi Luhrmann tidak menempatkannya dalam ruang hampa. Kesuksesan, histeria, dan batu sandungan yang dialami Elvis diberi konteks dalam kondisi di Amerika dan industri musik di negara tersebut pada era 1950 hingga 1970-an.

Baca Juga: 8 Film Biopik tentang Musisi Legendaris Dunia

Pada masa itu, musik warga kulit hitam yang sangat brilian hanya sebatas dinikmati oleh komunitas mereka saja. Beale Street jadi kiblatnya, menjadi tempat para musisi kulit hitam berkumpul, termasuk musisi blues BB King. Di sinilah musik blues dan rock and roll lahir.



Foto: Warner Bros. Pictures

Elvis senang ke wilayah ini. Ia pun berteman dekat dengan para musisi di sana, termasuk BB King. Musik Beale Street lah yang menginspirasinya, sama seperti musik Gospel yang pertama kali didengarnya saat masih kecil dulu di sekitar pemukiman tempat tinggalnya.

Tak hanya tentang musik yang identik dengan warga kulit hitam, film ini juga menggambarkan tentang geliat bisnis pertunjukan musik, termasuk di 'kota pertunjukan' Las Vegas. Kisah Elvis pun akan bersinggungan dengan kemunculan The Beatles, The Rolling Stones, hingga Jackson 5.

Penonton juga diberi gambaran betapa musik juga dicampuri urusan politik yang membuat Elvis muak dan ingin memberontak.

Ritme Cepat, Penuh Warna

Karena ditujukan untuk penonton muda, Luhrmann menceritakan Elvis dengan gaya penceritaan yang dinamis dan bergerak cepat. Durasi nyaris 2,5 jam hampir tak terasa karena sejak awal, cerita mengalir deras dan penuh dengan adegan menarik.

Visual yang disajikan juga sangat dinamis, seolah seperti ikut bergoyang mengikuti irama musik Elvis yang memang adiktif. Goyangan Elvis kerap kali dipotret dengan detail, begitu juga wajahnya kerap di-close up, demi menyuguhkan efek 'syok' yang membuat penonton ketagihan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!