CERMIN: Pada Mulanya adalah Niat Mulia
Sabtu, 09 Juli 2022 - 13:00 WIB
Serial The Dropout menceritakan kisah pendiri Theranos Elizabeth Holmes yang niat awalnya terdengar mulia. Foto/Hulu
JAKARTA - Tahun 2004. Elizabeth Holmes memutuskan berhenti kuliah dari Universitas Stanford dan memulai perusahaan rintisan bernama Theranos. Dan saya masih terombang-ambing melanjutkan kuliah kedokteran ke jenjang berikutnya atau tidak.
Apa yang kamu lakukan saat berusia 19 tahun? Dalam usia itu, saya masih mencoba menikmati berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Namun di benua yang berada ribuan kilometer jauhnya, ada Elizabeth Holmes yang tanpa ragu memutuskan berhenti dari studinya di Teknik Kimia Universitas Stanford.
Seperti Adam Neumann, pendiri WeWork, Elizabeth mengikuti kata hatinya mewujudkan impian Amerika. Ia percaya di negara yang selalu diklaim paling demokratis itu, ia bisa mengubah dunia melalui perusahaan rintisan bernama Theranos.
Niatnya mendirikan perusahaan rintisan itu mulia betul: ingin memberi akses murah bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya hanya melalui setetes darah. Siapa yang tak jatuh hati dengan ide mulia dan terkesan sederhana itu. Namun pada akhirnya kita tahu niat baik selalu tak cukup, dan kita pun sulit membedakan apakah Elizabeth sejatinya seorang penipu atau memang hanyalah seorang yang naif.
Foto: Hulu
Kita memang mudah dibuat jatuh hati dengan niat mulia. Minggu ini media kita mengekspos betapa rentannya lembaga donasi dengan praktik korupsi. Niat mulia memang selalu mudah diperjualbelikan, sama seperti Theranos.
Theranos tak begitu sulit menggegerkan dunia investasi di Amerika Serikat dan menghimpun triliunan dolar dari mereka yang percaya dengan niat mulia itu. Kita begitu gampang tergugah dengan niat mulia sehingga juga begitu mudah teperdaya karenanya.
Baca Juga: CERMIN: Pertaruhan Atas Nama Cinta
Kita tak segan menggelontorkan dana karena berharap gelontoran dana itu bisa mengubah seseorang. Dalam kasus Theranos, investor berharap kali ini mereka tak hanya berbisnis, tapi juga mengubah wajah dunia medis. Bayangkan betapa banyaknya masyarakat kecil akan tertolong dengan teknologi yang ditawarkan Theranos.
Apa yang kamu lakukan saat berusia 19 tahun? Dalam usia itu, saya masih mencoba menikmati berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Namun di benua yang berada ribuan kilometer jauhnya, ada Elizabeth Holmes yang tanpa ragu memutuskan berhenti dari studinya di Teknik Kimia Universitas Stanford.
Seperti Adam Neumann, pendiri WeWork, Elizabeth mengikuti kata hatinya mewujudkan impian Amerika. Ia percaya di negara yang selalu diklaim paling demokratis itu, ia bisa mengubah dunia melalui perusahaan rintisan bernama Theranos.
Niatnya mendirikan perusahaan rintisan itu mulia betul: ingin memberi akses murah bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya hanya melalui setetes darah. Siapa yang tak jatuh hati dengan ide mulia dan terkesan sederhana itu. Namun pada akhirnya kita tahu niat baik selalu tak cukup, dan kita pun sulit membedakan apakah Elizabeth sejatinya seorang penipu atau memang hanyalah seorang yang naif.
Foto: Hulu
Kita memang mudah dibuat jatuh hati dengan niat mulia. Minggu ini media kita mengekspos betapa rentannya lembaga donasi dengan praktik korupsi. Niat mulia memang selalu mudah diperjualbelikan, sama seperti Theranos.
Theranos tak begitu sulit menggegerkan dunia investasi di Amerika Serikat dan menghimpun triliunan dolar dari mereka yang percaya dengan niat mulia itu. Kita begitu gampang tergugah dengan niat mulia sehingga juga begitu mudah teperdaya karenanya.
Baca Juga: CERMIN: Pertaruhan Atas Nama Cinta
Kita tak segan menggelontorkan dana karena berharap gelontoran dana itu bisa mengubah seseorang. Dalam kasus Theranos, investor berharap kali ini mereka tak hanya berbisnis, tapi juga mengubah wajah dunia medis. Bayangkan betapa banyaknya masyarakat kecil akan tertolong dengan teknologi yang ditawarkan Theranos.
Lihat Juga :