CERMIN: Nyeri yang Membunuh Amerika
Rabu, 13 Juli 2022 - 13:45 WIB
Selama bertahun-tahun, saya melihat bagaimana perilaku ini tak hanya mencederai pelaku, tapi juga keluarga secara keseluruhan. Tak terkira berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk membiayai perilaku kecanduan ini.
Tak terhitung berapa besar kesabaran yang dipupuk bertahun-tahun untuk mencoba mengerti bagaimana perilaku kecanduan ini bekerja dan mencari cara untuk mengatasinya. Tak terkira berapa banyak masa muda yang hancur bahkan mati sebelum waktunya akibat ulah perilaku kecanduan ini.
Foto: Disney+
Menonton Dopesickmembuat kita semakin gelisah. Membuat kita semakin mengkhawatirkan masa depan anak-anak kita kelak. Mereka tak hanya berjuang untuk masa depan yang gemilang, tapi juga berjuang untuk tak terperangkap perilaku sejenis kecanduan ini.
Kita juga semakin gelisah dan khawatir karena tahu seberapa mudah obat-obat itu didapatkan. Dan kita tak punya kekuatan apa pun untuk melawannya.
Tapi kita bisa meniru Beth Macy. Kita bisa memulai bersuara lantang tentang kisah-kisah yang kita atau orang-orang terdekat yang pernah alami seputar perilaku kecanduan. Kita berharap suara lantang itu terdengar semakin keras ketika dibagikan ke banyak orang. Kita berharap semakin banyak yang peduli akan bahaya perilaku kecanduan obat ini.
Sebelas tahun setelah adik saya meninggal pada tahun 2007, Prince ditemukan terkapar tewas di rumahnya. Penyanyi legendaris itu disinyalir juga kecanduan obat pereda nyeri dan tak bisa mengatasi kecanduannya. Kita tak pernah tahu siapa lagi yang akan jadi korban. Bukan saja dokter atau pekerja tambang, penyanyi sekaliber Prince pun terjerat olehnya.
Foto: Disney+
Kekhawatiran Beth Macy bukan sekedar kekhawatiran tentang perusahaan farmasi membodohi masyarakat Amerika. Kekhawatirannya juga tentang masa depan Amerika ketika anak-anak mudanya kecanduan obat dan nyaris tak bisa berfungsi dengan baik selama mencandu.
Kekhawatiran kita pula yang membuat Dopesickbukan sekadar tontonan, tapi sebagai tamparan keras untuk kita semua. Bahwa perilaku itu masih ada di sekitar kita dan sewaktu-waktu bisa kembali sebagai epidemi.
Tak terhitung berapa besar kesabaran yang dipupuk bertahun-tahun untuk mencoba mengerti bagaimana perilaku kecanduan ini bekerja dan mencari cara untuk mengatasinya. Tak terkira berapa banyak masa muda yang hancur bahkan mati sebelum waktunya akibat ulah perilaku kecanduan ini.
Foto: Disney+
Menonton Dopesickmembuat kita semakin gelisah. Membuat kita semakin mengkhawatirkan masa depan anak-anak kita kelak. Mereka tak hanya berjuang untuk masa depan yang gemilang, tapi juga berjuang untuk tak terperangkap perilaku sejenis kecanduan ini.
Kita juga semakin gelisah dan khawatir karena tahu seberapa mudah obat-obat itu didapatkan. Dan kita tak punya kekuatan apa pun untuk melawannya.
Tapi kita bisa meniru Beth Macy. Kita bisa memulai bersuara lantang tentang kisah-kisah yang kita atau orang-orang terdekat yang pernah alami seputar perilaku kecanduan. Kita berharap suara lantang itu terdengar semakin keras ketika dibagikan ke banyak orang. Kita berharap semakin banyak yang peduli akan bahaya perilaku kecanduan obat ini.
Sebelas tahun setelah adik saya meninggal pada tahun 2007, Prince ditemukan terkapar tewas di rumahnya. Penyanyi legendaris itu disinyalir juga kecanduan obat pereda nyeri dan tak bisa mengatasi kecanduannya. Kita tak pernah tahu siapa lagi yang akan jadi korban. Bukan saja dokter atau pekerja tambang, penyanyi sekaliber Prince pun terjerat olehnya.
Foto: Disney+
Kekhawatiran Beth Macy bukan sekedar kekhawatiran tentang perusahaan farmasi membodohi masyarakat Amerika. Kekhawatirannya juga tentang masa depan Amerika ketika anak-anak mudanya kecanduan obat dan nyaris tak bisa berfungsi dengan baik selama mencandu.
Kekhawatiran kita pula yang membuat Dopesickbukan sekadar tontonan, tapi sebagai tamparan keras untuk kita semua. Bahwa perilaku itu masih ada di sekitar kita dan sewaktu-waktu bisa kembali sebagai epidemi.
Lihat Juga :