CERMIN: Menyaksikan Arab Saudi yang Berubah
Rabu, 12 Oktober 2022 - 06:58 WIB
Yang paling menarik adalah Maryam bukanlah tipe perempuan ambisius. Ia hanya melihat sebuah masalah besar yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Ia bahkan tak pernah tertarik masuk ke politik hingga sebuah ketaksengajaan membawa nasibnya ke arah sana.
Foto: Music Box Films
Namun ketika tahu bahwa mungkin ini menjadi jalan yang baik untuk melakukan perbaikan jalan itu, Maryam memutuskan untuk melaju sebagai perwakilan kotanya di Pemilu. Sepanjang durasi film, kita tahu bahwa berubah itu tak mudah. Apalagi soal mengubah pemikiran yang sudah terbentuk puluhan tahun.
Baru pada 2018 Arab Saudi mengizinkan perempuan bisa mengendarai mobil seorang diri. Sebuah kemewahan bagi negeri yang sudah merdeka sejak 86 tahun lalu. Maryam digambarkan gesit mengendarai mobilnya dalam film yang dirilis pada 2019 itu.
Ia bisa menyetir mobilnya perlahan tapi juga bisa berkendara dengan kecepatan tinggi saat sedang terburu-buru. Tapi perubahan itu berlangsung lambat. Ternyata tak bisa dilakukan secara terburu-buru.
Mengubah pemikiran masyarakat bahwa perempuan sederajat dengan laki-laki tak semudah yang dibayangkan. Maryam mesti berhadapan dengan pragmatisme itu.
Foto: Music Box Films
Tapi Haifaa tak mengadili pragmatisme itu. Ia hanya menyodorkan kenyataan yang ada. Ia juga seperti tak tertarik membicarakan soal patriarki dengan cara yang dangkal.
Dalam The Perfect Candidate, kita bertemu dengandua laki-laki yang relatif bisa menerima perempuan yang ingin semaju lelaki: ayah Maryam, Abdulaziz dan Omar, seorang pemuda yang ditemuinya di rumah sakit.
Saya menyukai cara Haifaa bicara soal patriarki dalam lingkup keluarga. Abdulaziz mungkin masih terbiasa dengan pemikiran laki-laki Arab pada umumnya bahwa perempuan seharusnya hanya mengurus rumah. Namun ia juga tak melarang ketiga anak perempuannya untuk menjalani mimpinya masing-masing.
Foto: Music Box Films
Namun ketika tahu bahwa mungkin ini menjadi jalan yang baik untuk melakukan perbaikan jalan itu, Maryam memutuskan untuk melaju sebagai perwakilan kotanya di Pemilu. Sepanjang durasi film, kita tahu bahwa berubah itu tak mudah. Apalagi soal mengubah pemikiran yang sudah terbentuk puluhan tahun.
Baru pada 2018 Arab Saudi mengizinkan perempuan bisa mengendarai mobil seorang diri. Sebuah kemewahan bagi negeri yang sudah merdeka sejak 86 tahun lalu. Maryam digambarkan gesit mengendarai mobilnya dalam film yang dirilis pada 2019 itu.
Ia bisa menyetir mobilnya perlahan tapi juga bisa berkendara dengan kecepatan tinggi saat sedang terburu-buru. Tapi perubahan itu berlangsung lambat. Ternyata tak bisa dilakukan secara terburu-buru.
Mengubah pemikiran masyarakat bahwa perempuan sederajat dengan laki-laki tak semudah yang dibayangkan. Maryam mesti berhadapan dengan pragmatisme itu.
Foto: Music Box Films
Tapi Haifaa tak mengadili pragmatisme itu. Ia hanya menyodorkan kenyataan yang ada. Ia juga seperti tak tertarik membicarakan soal patriarki dengan cara yang dangkal.
Dalam The Perfect Candidate, kita bertemu dengandua laki-laki yang relatif bisa menerima perempuan yang ingin semaju lelaki: ayah Maryam, Abdulaziz dan Omar, seorang pemuda yang ditemuinya di rumah sakit.
Saya menyukai cara Haifaa bicara soal patriarki dalam lingkup keluarga. Abdulaziz mungkin masih terbiasa dengan pemikiran laki-laki Arab pada umumnya bahwa perempuan seharusnya hanya mengurus rumah. Namun ia juga tak melarang ketiga anak perempuannya untuk menjalani mimpinya masing-masing.
Lihat Juga :