CERMIN: Ditolak Google, Lahirkan Spotify

Rabu, 26 Oktober 2022 - 14:05 WIB
Namun impian akan terus mengalami benturan demi benturan hingga pada akhirnya ia terbentuk. Daniel pada akhirnya tahu itu. Bahwa yang dilakukannya adalah hal yang revolusioner dan memerlukan kapasitas diri untuk fleksibel.

Sebelumnya industri musik dikendalikan penuh oleh label rekaman, setelahnya musik 'didemokratisasi' habis-habisan oleh situs bajakan hingga akhirnya muncullah Spotify sebagai solusi. Tapi betulkah Spotify adalah solusi, terutama bagi musisi yang menggantungkan hidupnya dari musik?

Baca Juga: CERMIN: Bom Waktu dari Ponsel Kita

Dari sisi inilah The Playlistmenampakkan wajahnya yang menarik: ia memunculkan dilema demi dilema. Ia menguarkan pertentangan demi pertentangan dan para pendiri Spotify dipaksa untuk terus menerus terbentur. Dan apakah risiko terbentur terus-menerus setara dengan apa yang akan dilakukan Spotify ke depannya?

The Playlistyang diadaptasi dari buku karya duo jurnalis investigasi, Sven Carlsson dan Jonas Leijonhufvud, ini seperti membongkar dua sisi mata uang dari lahirnya teknologi serevolusioner Spotify. Di satu sisi, ia membuat musik bisa diakses dengan sangat mudah oleh masyarakat.

Di sisi lain, ia membuat musik juga terkesan nyaris tak berharga lagi karena bisa didengarkan tanpa perlu dibeli lagi. Tapi zaman memang tak bisa dikekang, karena jika bukan Spotify hampir pasti akan ada perintis serupa yang akan lahir.



Foto: Netflix

Saya ingat pengalaman sewaktu masih menjadi music director di salah satu stasiun radio di Makassar, lebih dari 20 tahun lalu. Untuk mendapatkan lagu terbaru untuk dimasukkan ke dalam tangga lagu (chart), saya harus berburu CD dan membeli beberapa CD sekaligus setiap minggu.

Harganya pun tak murah, bisa ratusan ribu rupiah dihabiskan per minggu. Kini dengan Spotify, lagu bisa diputar secara gratis dan diunduh dengan biaya langganan cuma 50 ribuan per bulan.

Baca Juga: Rekomendasi Drama dan Film Korea Terbaru yang Viral

Bergerak maju adalah sebuah keniscayaan. Spotify adalah perwujudan dari visi itu. Tapi sebuah visi, seidealis apa pun, akan selalu melahirkan korbannya sendiri. Mungkinkah Spotify mengorbankan para musisi yang justru menjadi penggerak dari visinya?

Sayup-sayup kita mendengar suara Bobbi T dari sebuah kafe merintih pelan. Ia menghipnosis puluhan pendengarnya malam itu. Sebuah rintihan yang tak mencoba pedih tapi tak bisa berkelit dari sedih. Sebuah lagu daur ulang dari Nina Simone yang masih relevan menembus zaman.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!