CERMIN: Cerita dari Sekolah Paling Terpencil di Dunia
Rabu, 02 November 2022 - 14:54 WIB
Kami berhadapan dengan tak adanya listrik dan sinyal telepon yang byar-pet,terutama pertama kalinya kami bertemu dengan sekolah dasar dengan bangunan nyaris tak terurus. Juga rumah dinas guru yang reyot dan Bu Martini yang mesti seorang diri merangkap sebagai kepala sekolah, guru, hingga juru kunci.
Foto: Klik Film
Frustasi kami tak ada apa-apanya dengan yang dirasakan Ugyen. Ia bahkan sejak awal tak tertarik untuk mengajar dan memutuskan untuk kembali ke kotanya. Tapi semesta bekerja dengan caranya yang ajaib. Diawali dengan pertemuannya dengan sang ketua kelas, gadis cilik bernama Pem Zam, Ugyen perlahan mulai jatuh cinta dengan Lunana.
Saya kira, kita semua, para penonton, juga jatuh cinta dengan film ini. Hati kita terpaut oleh kesederhanaannya, oleh masalah-masalah nyata yang dialami karakter-karakternya, oleh lagu-lagu tradisional yang dilantunkan sepanjang film. Kita tahu bahwa Lunana: A Yak in the Classroom adalah sebuah film ajaib yang lahir dari negara kecil dan bisa menembus menjadi nomine Oscar tahun ini.
Ketika segala unsur bertemu dalam campurannya yang tepat, film akan memperlihatkan keajaibannya. Dan keajaiban itu akan terasa meloncat dari layar, keluar dari mata, telinga dan hati kita, dan bertemu dengan penontonnya dengan cara yang paling spesial.
Ketika mempersiapkan produksi sebuah film, semua hal sebelumnya adalah misteri. Kita tak pernah tahu segala unsur akan bekerja dengan cara yang seperti kita inginkan. Saya pun tak pernah menyangka Cerita Dari Tapal Batas, film kecil kami yang dipersiapkan selama tiga bulan, bisa menyentuh hati banyak orang.
Foto: Klik Film
Mungkin sama saja dengan yang dirasakan sutradara, Pawo Choyning Dorji. Ia membutuhkan waktu hingga 1,5 tahun untuk mewujudkan film impiannya itu yang mungkin juga tak pernah diimpikannya bisa dikenal publik internasional.
Cerita Dari Tapal Batasfokus bicara soal pendidikan maka, sedangkan Lunana: A Yak in the Classroomjustru mempertanyakan soal kebahagiaan itu. Sebuah hal yang sering kali luput dari perhatian kita.
Seseorang hampir selalu akan menanyakan soal kesehatan kita, tapi nyaris tak pernah bertanya apakah kita bahagia. Ada satu dialog yang teringat betul dan seperti menampar kedua pipi saya. “Jika Bhutan adalah negara paling bahagia di dunia, mengapa Tuan Guru justru ingin mencari kebahagiaan di negeri lain?”
Foto: Klik Film
Frustasi kami tak ada apa-apanya dengan yang dirasakan Ugyen. Ia bahkan sejak awal tak tertarik untuk mengajar dan memutuskan untuk kembali ke kotanya. Tapi semesta bekerja dengan caranya yang ajaib. Diawali dengan pertemuannya dengan sang ketua kelas, gadis cilik bernama Pem Zam, Ugyen perlahan mulai jatuh cinta dengan Lunana.
Saya kira, kita semua, para penonton, juga jatuh cinta dengan film ini. Hati kita terpaut oleh kesederhanaannya, oleh masalah-masalah nyata yang dialami karakter-karakternya, oleh lagu-lagu tradisional yang dilantunkan sepanjang film. Kita tahu bahwa Lunana: A Yak in the Classroom adalah sebuah film ajaib yang lahir dari negara kecil dan bisa menembus menjadi nomine Oscar tahun ini.
Ketika segala unsur bertemu dalam campurannya yang tepat, film akan memperlihatkan keajaibannya. Dan keajaiban itu akan terasa meloncat dari layar, keluar dari mata, telinga dan hati kita, dan bertemu dengan penontonnya dengan cara yang paling spesial.
Ketika mempersiapkan produksi sebuah film, semua hal sebelumnya adalah misteri. Kita tak pernah tahu segala unsur akan bekerja dengan cara yang seperti kita inginkan. Saya pun tak pernah menyangka Cerita Dari Tapal Batas, film kecil kami yang dipersiapkan selama tiga bulan, bisa menyentuh hati banyak orang.
Foto: Klik Film
Mungkin sama saja dengan yang dirasakan sutradara, Pawo Choyning Dorji. Ia membutuhkan waktu hingga 1,5 tahun untuk mewujudkan film impiannya itu yang mungkin juga tak pernah diimpikannya bisa dikenal publik internasional.
Cerita Dari Tapal Batasfokus bicara soal pendidikan maka, sedangkan Lunana: A Yak in the Classroomjustru mempertanyakan soal kebahagiaan itu. Sebuah hal yang sering kali luput dari perhatian kita.
Seseorang hampir selalu akan menanyakan soal kesehatan kita, tapi nyaris tak pernah bertanya apakah kita bahagia. Ada satu dialog yang teringat betul dan seperti menampar kedua pipi saya. “Jika Bhutan adalah negara paling bahagia di dunia, mengapa Tuan Guru justru ingin mencari kebahagiaan di negeri lain?”
Lihat Juga :