CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia

Rabu, 23 November 2022 - 14:40 WIB


Foto: Negeri Films

Pondok Kebun Jambu Al-Islamy yang terletak di Cirebon ini punya sejarah yang menarik. Salah satunya karena dipimpin oleh seorang ulama perempuan. Salah duanya karena menjadi tempat penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan Indonesia pertama pada 2017.

Sejarah yang menarik ini berpilin dengan bagaimana Al-Qur’an dan hadis dikaji secara mendalam, ditelaah tak saja secara tekstual tapi juga dipelajari sebab musababnya. Juga bagaimana para guru mereka dengan pemikiran terbuka memberikan pandangan menarik seputar kajian gender kepada para santrinya.

Banyak sekali pemikiran menarik yang terlontar sepanjang film. Salah satu guru, Kyai Husein Muhammad, mencoba menawarkan perspektif gender melalui kajian atas surat An-Nisa 34: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).”

Tak kurang banyak yang membaca ayat ini sebagai “keunggulan laki-laki atas perempuan dari segi apa pun” tapi tak memperhatikan kata “sebahagian”. Namun sang guru dengan bijak menafsirkannya bahwa bisa jadi sebagian laki-laki memang lebih unggul dari perempuan tapi bisa saja sebagian perempuan juga lebih unggul dari laki-laki. Ayat ini memang sempat disetir oleh beberapa pihak yang tak menyetujui perempuan sebagai pemimpin dalam sejumlah sektor.



Foto: Negeri Films

Di lain kesempatan, di hadapan seorang pengawas santriwati yang menggeluti dunia seni, pimpinan pesantren, Nyai Hj Masriyah Amva, mengutip sebuah hadis: “Sesungguhnya Allah Maha-indah dan mencintai keindahan.” Beliau mengaitkan dengan seni yang diajarkan di pesantren termasuk seni angklung, dan bahwa seni itu termasuk hal yang indah dan melembutkan hati.

Meski dikemas secara sederhana, Shalahuddin mencoba bereksperimen dengan pengemasan gambar. Dengan pemaparan soal kajian gender dalam adegan sebelumnya, pemaparan tersebut terasa lebih nyaring bunyinya ketika sutradara menempatkan gambar kemeriahan pentas Kongres Ulama Perempuan Indonesia berdampingan dengan adegan para laki-laki sedang mencuci piring bekas hajatan acara tersebut. Kajian itu tak sekadar diucapkan tapi langsung dipraktikkan.

Baca Juga: 5 Alasan untuk Nonton Weak Hero Class 1, Drakor yang Lagi Hype

Yang paling penting, kita melihat para guru menawarkan pemikiran terbuka kepada para santri bahwa siapa saja boleh berpendapat dan siapa saja juga boleh tak setuju dengan suatu pendapat. Namun bukan berarti ketidaksetujuan adalah tanda permusuhan. Karena sesungguhnya hal ini sekedar memperlihatkan bahwa Al-Qur’an dan Hadis tak sekadar dibaca tapi amun juga dikaji secara mendalam.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!