CERMIN: Permaisuri dalam Hidupnya yang Sepi
Sabtu, 03 Desember 2022 - 08:11 WIB
Foto: KlikFilm
Mungkin yang Elisabeth cari memang bukan sesuatu yang bisa digapainya. Tapi ia berusaha meraihnya dengan segala cara. Mungkin yang Elisabeth akan temukan pun bukan sesuatu yang benar-benar diinginkannya. Tapi setidaknya ia mencoba untuk memberontak dan membebaskan diri dari kungkungan yang tak terlihat.
Baca Juga: CERMIN: Pembunuh Berdarah Dingin tanpa Darah di Tangannya
Dan kungkungan itu kadang berupa pandangan orang lain terhadapnya. Bagaimana citranya sebagai seorang permaisuri yang sudah terbentuk terlebih dahulu di mata publik. Dan citra yang berpuluh tahun itu dilanggengkan dengan segala cara dan Elisabeth tak kuasa untuk melawannya. Tapi ia melawan dengan caranya sendiri.
Korset yang selalu membelit dirinya dan membelit hidupnya akhirnya dilepaskannya. Rambut panjang terurai yang selalu bergelung diguntingnya hingga pendek. Hidup yang terasa sepi baginya selama bertahun-tahun ingin dijalaninya sekuatnya. Dalam usia 40, Elisabeth ingin merasakan kebebasannya, ingin merasakan hidup sesungguhnya, dan sekaligus ingin mengakhiri hidupnya.
Foto: KlikFilm
Tapi hidup memang tak selalu semudah yang diperkirakan. Ia tak selalu seindah yang dibayangkan. Elisabeth yang bergelimang harta dan fasilitas, toh, tak bisa terhindar dari sepi. Sebuah rasa yang membelitnya selama bertahun-tahun dan ingin dilepaskannya agar hidupnya kembali lega.
Baca Juga: 8 Negara Fiktif Anime Ini Bisa Memenangkan Piala Dunia
Lamat-lamat terdengar seseorang membacakan puisi Di Stasiun karya Sapardi Djoko Damono. Di Jakarta, bukan di Vienna.
Sepi pun lengkap ketika kereta tiba
sebelum siap kita menerima
Mungkin yang Elisabeth cari memang bukan sesuatu yang bisa digapainya. Tapi ia berusaha meraihnya dengan segala cara. Mungkin yang Elisabeth akan temukan pun bukan sesuatu yang benar-benar diinginkannya. Tapi setidaknya ia mencoba untuk memberontak dan membebaskan diri dari kungkungan yang tak terlihat.
Baca Juga: CERMIN: Pembunuh Berdarah Dingin tanpa Darah di Tangannya
Dan kungkungan itu kadang berupa pandangan orang lain terhadapnya. Bagaimana citranya sebagai seorang permaisuri yang sudah terbentuk terlebih dahulu di mata publik. Dan citra yang berpuluh tahun itu dilanggengkan dengan segala cara dan Elisabeth tak kuasa untuk melawannya. Tapi ia melawan dengan caranya sendiri.
Korset yang selalu membelit dirinya dan membelit hidupnya akhirnya dilepaskannya. Rambut panjang terurai yang selalu bergelung diguntingnya hingga pendek. Hidup yang terasa sepi baginya selama bertahun-tahun ingin dijalaninya sekuatnya. Dalam usia 40, Elisabeth ingin merasakan kebebasannya, ingin merasakan hidup sesungguhnya, dan sekaligus ingin mengakhiri hidupnya.
Foto: KlikFilm
Tapi hidup memang tak selalu semudah yang diperkirakan. Ia tak selalu seindah yang dibayangkan. Elisabeth yang bergelimang harta dan fasilitas, toh, tak bisa terhindar dari sepi. Sebuah rasa yang membelitnya selama bertahun-tahun dan ingin dilepaskannya agar hidupnya kembali lega.
Baca Juga: 8 Negara Fiktif Anime Ini Bisa Memenangkan Piala Dunia
Lamat-lamat terdengar seseorang membacakan puisi Di Stasiun karya Sapardi Djoko Damono. Di Jakarta, bukan di Vienna.
Sepi pun lengkap ketika kereta tiba
sebelum siap kita menerima
Lihat Juga :