CERMIN: Jangan Lupa Pulang, ya, Aurora
Sabtu, 04 Februari 2023 - 07:22 WIB
loading...
A
A
A
Kita berusaha menjadi diri kita yang lebih baik di tanah rantau tapi sesungguhnya tak pernah benar-benar menjadi orang yang berbeda. Kita adalah orang yang sama, hanya dengan pengalaman yang mungkin lebih kaya.
Meskipun saya mengerti yang dialami Aurora, dalam kehidupan nyata saya adalah Angkasa yang dalam berbagai cara mencoba melindungi adik-adiknya. Kadang tanpa perhitungan, sering kali tanpa pertimbangan.
Dalam perjalanan yang mengiringi, saya pun berubah menjadi seperti ayah saya. Yang dalam beberapa hal mungkin otoriter. Yang dalam beberapa hal hanya ingin kemauannya yang diikuti. Dan dalam beberapa hal susah mendengar suara jujur dari adik-adiknya.
Baca Juga: CERMIN: A Man Called Carmy
Perjalanan yang dialami Aurora adalah pengalaman personal. Tapi bisa terjadi pada siapa saja. Berada di negeri asing, mencoba mengalami hal-hal yang baru, terpikat dengannya, terlibat dalam hubungan yang problematik, terjatuh dan bangkit lagi, melarikan diri dari masalah, dan berbagai hal rumit yang mungkin cuma bisa dimengerti oleh mereka yang pernah mengalami hal yang sama.
Tapi itulah risiko melakukan 'perjalanan jauh'. Kita akan mengembara memasuki wilayah-wilayah asing dengan segala keterpesonaan pada awalnya untuk kemudian melakukan kesalahan demi kesalahan. Tapi pada akhirnya kesalahan-kesalahan itu mungkin akan menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mungkin juga lebih kuat.
![CERMIN: Jangan Lupa Pulang, ya, Aurora]()
Foto: Visinema Pictures
Dalam perjalanan itu, Aurora tak hanya memaknai ulang soal rumah dan pulang. Ia juga memberi definisi baru pada kosa keluarga. Bahwa keluarga bukan sekadar karena bertalian darah. Tapi teman juga adalah keluarga yang kita pilih.
Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang juga mengantarkan kita memasuki cerita dari Honey dan Kit, para perantau lain yang ditempa kerasnya hidup. Tapi mereka terus berjalan. Kesalahan tidak untuk ditengok lagi, hanya sebagai peringatan.
Seperti saya, Aurora akhirnya memaknai rumah adalah tempat kita bisa menjadi nyaman menjadi diri sendiri. Buat saya, rumah adalah sebuah perasaan. “Home is a feeling” yang saya pahami dan akhirnya terukir sebagai tato di dada saya.
Meskipun saya mengerti yang dialami Aurora, dalam kehidupan nyata saya adalah Angkasa yang dalam berbagai cara mencoba melindungi adik-adiknya. Kadang tanpa perhitungan, sering kali tanpa pertimbangan.
Dalam perjalanan yang mengiringi, saya pun berubah menjadi seperti ayah saya. Yang dalam beberapa hal mungkin otoriter. Yang dalam beberapa hal hanya ingin kemauannya yang diikuti. Dan dalam beberapa hal susah mendengar suara jujur dari adik-adiknya.
Baca Juga: CERMIN: A Man Called Carmy
Perjalanan yang dialami Aurora adalah pengalaman personal. Tapi bisa terjadi pada siapa saja. Berada di negeri asing, mencoba mengalami hal-hal yang baru, terpikat dengannya, terlibat dalam hubungan yang problematik, terjatuh dan bangkit lagi, melarikan diri dari masalah, dan berbagai hal rumit yang mungkin cuma bisa dimengerti oleh mereka yang pernah mengalami hal yang sama.
Tapi itulah risiko melakukan 'perjalanan jauh'. Kita akan mengembara memasuki wilayah-wilayah asing dengan segala keterpesonaan pada awalnya untuk kemudian melakukan kesalahan demi kesalahan. Tapi pada akhirnya kesalahan-kesalahan itu mungkin akan menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mungkin juga lebih kuat.

Foto: Visinema Pictures
Dalam perjalanan itu, Aurora tak hanya memaknai ulang soal rumah dan pulang. Ia juga memberi definisi baru pada kosa keluarga. Bahwa keluarga bukan sekadar karena bertalian darah. Tapi teman juga adalah keluarga yang kita pilih.
Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang juga mengantarkan kita memasuki cerita dari Honey dan Kit, para perantau lain yang ditempa kerasnya hidup. Tapi mereka terus berjalan. Kesalahan tidak untuk ditengok lagi, hanya sebagai peringatan.
Seperti saya, Aurora akhirnya memaknai rumah adalah tempat kita bisa menjadi nyaman menjadi diri sendiri. Buat saya, rumah adalah sebuah perasaan. “Home is a feeling” yang saya pahami dan akhirnya terukir sebagai tato di dada saya.
Lihat Juga :